Jumat, 22 Agustus 2014

1. Aku akan selalu merindukanmu :: Jeongmal bogo sipeosseoyo
hangul :  정 말 보 고 싶 었 어 요
2. Aku berharap kita bisa bertemu lagi secepatnya :: Got dasi bol su isseumyeon jokesseoyo
hangul : 곧 다 시 볼 수 있 으 면좋 겠 어 요
3. Aku jatuh cinta kepadamu :: Dangsineul saranghaeyo
hangul : 당 신 을 사랑 해 요
4. Aku juga cinta kamu :: Seodayo
hangul : 서 다 요
5. Aku memikirkan dirimu sepanjang hari :: Harujog-il dangsin saeng-gageul haeyo
hangul : 하 루 종 일 당신 생 각 을 해 요
6. Aku memimpikanmu :: Dangsin kkumeul kkwosseoyo
hangul : 당 신 꿈 을 꿖 어 요
7. Aku menantimu :: Gidarigo isseulkkeyo
hangul : 기 다 리 고 있 을 게 요
8. Cinta kamu :: Saranghaeyo
hangul : 사 랑 해 요
9. Aku ingin bertemu denganmu lagi :: tto bwasseumyeon jokesseoyo
hangul : 또 봤 으 면 좋 겠 어 요
  1. 내가 힘들 땐 단신이 나를 위로해 주세요 ( naega himdeul ttaen dansini nareul wirohae juseyo ) Saat aku letih, aku mohon kau melipurku
  2.  아니 ! 그냥 옆에 있어 주세요! 떠나가지 말고…..ani ! geunyang yeope isseo juseyo! tteonagaji malgo…..) Emm…tidak, hanya di sampingku saja, janganlah kau pergi
  3. 당신이 살아서 함께 있는 것만로 충분 합니다 ( dangsini saraseo hamkke inneun geotmanno chungbun hamnida ) Engkau hidup bersamaku itu saja, sudah cukup bagiku
  4. 나도 언제나 당신 곁에 머물러 당신에게 위로가 되겠습니다 ( nado eonjena dangsin gyeote meomulleo dangsinege wiroga doegessseumnida) Dan aku, kapanpun akan bersemayam di sisimu yang akan menjadi pelipur larahatimu.
  5. 사람이 사람에게 위로 입니다 sarami saramege wiro imnida ) Manusia adalah pelipur lara bagi orang lain
  6. 따뜻한 관심이 말 한마디가 사람을 살리는 위로가 됩니다 ( ttatteutan gwansimi mal hanmadiga sarameul sallineun wiroga doemnida ) Ungkapan kata kepedulian yang hangat menjadi pelipur lara yang membangkitkan orang lain
  7. 지금 우리에겐 위로가 필요 합니다 ( jigeum uriegen wiroga pillyo hamnida ) Sekarang kita butuh sang pelipur lara.
  8. 웃음은 가장 아름다운 보석 입니다 ( useumeun gajang areumdaun boseok imnida ) ”senyuman adalah permata terindah”
  9. 그대의 두눈에 흐르는 눈물을 볼수없어 ( kedaeui dunune heureuneun nun mureul bulsu eopseo ) Aku tak bisa melihat air matamu yang mengalir di dua matamu.
  10. 고마워 그대를 사랑할수 있어서 ,하지만 못다한 사랑에 내맘이 아파.. (gomawo geudaereul  sarang halsuiseoseo hajiman muttahan sarange nae mami apa, ) Terima kasih aku telah bisa mencintaimu,tetapi ketidak mampuanku menjaga cinta itu membuat
    hatiku sakit.
 생일 축하 합니다 ( saengil chukha hamnida )

당신은 미소가 정말 아름다워요Dangsineun misoga jeongmal areumdaweoyoKamu tersenyum dengan indah. 
당신 박에 없어요dangsin bakke eopseoyoTidak ada orang seperti kamu
처음부터 그대는 영원토록 그대는, 기쁠때나 슬플때나 늘 사랑 하겠습니다cheoeumbuteo geudaeneun yeongweontorok geudaeneun, gippeulttaena seulpeulttaena neul sarang hagetsseumnidaDari awal kamu dan sampai selamanya tetap kamu, saat senang atau saat sedih aku akan selalu mencintaimu.
곧 다시볼수있으면좋겠어요Got dasibolsuisseumyeonjokesseoyoAku berharap kita bisa bertemu lagi secepatnya.
당신 없이 못살아요Dangsin eopsi motsaleoyoAku tidak bisa hidup tanpamu
저랑 사귈래요jeorang sagwillaeyoMau kah kamu pergi denganku?
저희 부모님 뵈요jeoheui bumonim bweyoAyo mengunjungi orang tuaku
당신 부모님께 인사드리고 싶어요dangsin bomunimkke insadeurigo sipeoyoAku ingin mengunjungi orang tuamu.
사랑해요saranghaeyoAku mencintaimu
저랑 결혼해 줄래요? jeorang gyeolhonhae julaeyo?Maukah kamu menikah denganku?
보고 싶어요bogo sipeoyoAku ingin menemuimu
추워요. 안아줘요chuwoyo. anajwoyoAku kedinginan. Peluklah aku
같이 있고 싶어요gatchi itgosipeoyoAku ingin bersamamu
집에가지마요. 저 랑 같이 있어요jibega jimayo. Jeorang gatchi isseoyoJangan pulang. Tinggallah denganku.
당신이 좋아요dangsini joaeyoAku suka kamu.
당신은 언제나 날 행복하게해dangsineun eonjena nal haengbokhagehaekamu selalu membuatku bahagia
당신은 정말 대단했어요 dangsineun jeongmal daedanaesseoyokamu selalu membuatku bahagia
당신은 아주 흥미가 있어요 dangsineun aju heungmiga isseoyokamu sangat menarik perhatian
당신의 눈이 아주 아름다워요dangsineui nuni aju areumdawoyomatamu sangat indah
당신의 입술이 매우 섹시해요 dangsineui ipsuri maeu seksihaeyobibirmu sangat seksi
당신은 정말 충실한 파트너예요 dangsineun jeongmal chungsilhan pateunoyeyokamu benar-benar pasangan yang setia.   

Senin, 28 Juli 2014

because you're my common denominator


kau tau, mengapa melepas mu terasa begitu sulit? karena aku selalu merasa lebih baik apabila ada dirimu, ada didekatmu, menatap senyummu. aku merasa hidup ini terasa tanpa beban jika ada dirimu didekatku. aku merasa kesedihanku menguap begitu saja.

aku selalu berharap, sekali saja, kau merindukan aku. hanya sekali. itu cukup. setidaknya cukup untuk membuktikan bahwa kehadiranku masih bermakna dalam hidupmu. jika tidak, aku akan segera mengambil langkah seribu untuk jauh-jauh darimu. aku takut keberadaanku ini, terutama mengenai perasaanku ini mengganggumu.

aku takkan mengemis cintamu. aku hanya ingin kau mengizinkan aku untuk menyayangimu.

because you're my common denominator

Minggu, 18 Mei 2014



Sepuluh

“INI tempatnya?” tanya Tatsuya ketika mereka tiba di depan kelab mewah bernama La Vue.

Tara mengangguk. “Ini kelab paling keren di Paris,” katanya bangga. “Kau pernah ke sini?”

Tatsuya tersenyum dan mengangguk. “Pernah. Satu kali.”

Masih jelas sekali dalam ingatannya ketika ia datang ke kelab ini. Di sinilah ia bertemu kembali dengan si gadis dari bandara itu. Ia juga penasaran apakah si “Hugo” masih menjadi bartender di tempat ini.

“Kelab yang bagus, bukan? Ini salah satu kelab milik ayahku,” lanjut Tara sambil menarik tangan Tatsuya. “Ayo, masuk.”

* * *

“Hei, dia tampan,” bisik Élise di dekat Tara. “Tangkapan yang bagus.”

Tara mendesis dan menyiku lengan temannya, takut Tatsuya yang duduk di sebelahnya mendengar apa yang baru dikatakan Élise.

“Tangkapan? Memangnya dia ikan?” tukas Tara lirih.

Élise tidak peduli dan melanjutkan, “Kau beruntung. Kalau aku belum punya Olivier, sudah kurebut dia darimu.”

Tara tertawa. Ia memerhatikan temannya meneguk bir yang tersisa di botol sampai habis. Sepertinya Élise sudah agak mabuk, tapi dia tidak sendirian. Sebastien juga sudah terlihat mabuk karena mereka minum terus sejak tadi. Berbotol-botol bir dan gelas-gelas koktail kosong bertebaran di meja bundar itu.

Élise hanya mengundang beberapa orang untuk merayakan hari ulang tahunnya. Selain Élise dan pacarnya, Olivier, yang hadir di sana hanya Tara, Tatsuya, Sebastien, dan Juliette. Seperti yang sudah diduga Tara, Sebastien mengajak pacar barunya untuk dikenalkan kepada teman-temannya.

Harus Tara akui ia merasa agak kecewa karena Juliette sama sekali berbeda dari dugaannya. Juliette yang duduk tepat di hadapannya ini berwajah cantik, bermata hijau dan berambut hitam panjang bukan kuning jagung. Dan dengan menyesal Tara harus mengakui tidak ada orang-orangan sawah yang terlihat seseksi itu.

“Sepertinya bukan cuma aku yang punya pikiran merebut Tatsuya darimu,” kata Élise tiba-tiba.

Tara menoleh dengan cepat ke arah Tatsuya dan melihat Juliette sedang berbicara dengan laki-laki itu. Wajahnya dekat sekali dengan Tatsuya. Sesekali wanita itu tersenyum lebar dan mempertontonkan barisan giginya yang putih dan rapi. Sebastien asyik mengobrol dengan Olivier sehingga tidak terlalu memerhatikan pacarnya yang duduk di sampingnya sedang berusaha selingkuh... dan yang semakin lama semakin dekat dengan Tatsuya. O-oh, tunggu sebentar!

“Kau mau minum lagi? Biar kuambilkan,” kata Tatsuya menawarkan sambil menunjuk gelas Juliette yang sudah kosong.

“Tentu saja,” sahut Juliette dengan senyum manis yang membuat Tara naik darah.

Wanita itu baru akan membuka mulut lagi dan Tara langsung tahu apa yang ingin dikatakannya. Secepat kilat, sebelum Juliette sempat mengucapkan apa pun, Tara menyela dengan suara keras—hampir seperti teriakan pernyataan perang zaman dulu, “Tatsuya, kau mau ke bar? Aku ikut!”

Tara bangkit dari kursi dengan cepat dan melemparkan senyum yang tak kalah manisnya ke arah Juliette yang membalasnya dengan senyum sopan. Wanita itu bahkan tidak boleh bermimpi ingin mendekati Tatsuya. Coba saja kalau berani.

Tara mengikuti Tatsuya ke bar yang ramai.

“Ternyata kau baik sekali,” komentar Tara dengan nada sinis begitu mereka berdiri berdampingan di meja bar.

“Hm? Baik bagaimana?” tanya Tatsuya tidak mengerti.

“Kenapa kau harus mengambilkan minuman untuknya?” tanya Tara ketus, sama sekali tidak memandang Tatsuya. Ia tahu ia terdengar kekanak-kanakan, tetapi ia tidak bisa menahan diri.

Karena tidak mendengar jawaban, Tara melirik Tatsuya sekilas dan mendapati laki-laki itu sedang menatapnya sambil tersenyum.

“Kenapa senyum-senyum?” tanya Tara, lalu mengalihkan pandangan lagi. Ia merasa Tatsuya bisa membaca pikirannya hanya dengan menatap matanya dan itu berbahaya.

“Tara Dupont,” panggil Tatsuya. “Coba pandang aku.”

Karena Tatsuya memanggilnya dengan lembut, Tara tidak punya pilihan lain selain berpaling dengan enggan dan memandang Tatsuya.

“Kau cemburu?” tanya laki-laki itu. Senyumnya makin lebar.

“Tidak,” cetus Tara langsung. Siapa yang cemburu? Tidak ada.

Tatsuya tertawa kecil. Ia mengulurkan tangan dan mengusap kepala Tara. Jantung Tara langsung meloncat tidak beraturan.

“Aku menawarinya minuman lagi sebagai alasan untuk menyingkir dari sana,” kata Tatsuya sambil menatap mata Tara.

“Sungguh?”

Tatsuya mengangguk.

“Kau tidak tertarik padanya?”

Tatsuya menggeleng.

“Sedikit pun tidak?”

Tatsuya berpikir sejenak. “Yah... Dia memang cantik sekali,” gumamnya.

Tara mengerutkan kening.

“Tapi tidak, dia bukan tipeku,” lanjut Tatsuya tenang. Ia berpaling ke arah Tara. “Makanya kau tidak perlu cemas. Kau tahu, kulitmu bisa cepat keriput kalau kau berkerut seperti itu terus.”

Tara mendengus walaupun dalam hatinya senang mendengar ucapan Tatsuya—sebelum laki-laki itu bicara tenang keriput dan semacamnya itu. Untuk menutupi rasa malunya, ia hanya menggerutu tidak jelas.

“Kau mau minum lagi?” tanya Tatsuya.

Tara mengangguk dan mencari-cari bartender yang entah ada di mana.

“Kau tahu, pada saat-saat seperti sekarang inilah aku senang dengan posisiku sebagai anak bos,” kata Tara sambil tersenyum lebar ketika akhirnya ia berhasil melihat bartender di ujung sana.

Tatsuya tidak sempat bertanya apa maksudnya karena Tara sudah memalingkan wajah.

“Édouard!” seru gadis itu sambil melambai-lambaikan tangan ke arah bartender botak yang sedang melayani seorang tamu.

Begitu tahu siapa yang menyerukan namanya, bartender yang dipanggil Édouard itu segera menghampiri mereka dengan senyum lebar yang ramah. “Hai, Tara. Mau pesan apa?”

Tara menatap Tatsuya dengan senyum puas. “Anak bos selalu mendapat pelayanan utama.”

Tatsuya memandang bartender di hadapan mereka dan bertanya pada Tara, “Édouard?”

Tara mengangguk. Ia memperkenalkan kedua pria itu. “Édouard, ini temanku, Tatsuya. Tatsuya, ini Édouard. Dia sudah cukup lama bekerja di sini. Salah satu bartender favorit ayahku,” jelas Tara. “Tapi sayangnya, bukan favoritku, karena dia tidak pernah mengizinkanku minum banyak.”

“Koreksi,” sela Édouard dengan senyum lebar. “Aku tidak pernah mengizinkanmu minum sampai mabuk.”

“Tapi mabuk itu menyenangkan,” gurau Tara.

“Coba katakan itu lagi kalau kau sedang muntah-muntah,” balas Édouard.

Tara mengibaskan tangannya. “Kau terdengar persis seperti ibuku. Ibu tidak pernah mengizinkan aku minum sedikit pun selama aku tinggal di Jakarta. Membosankan. Padahal aku tidak pernah minum sampai mabuk. Aku tahu batasnya.” Ia memiringkan kepalanya ke arah Tatsuya dan berkata, “Temanku ingin menambah minuman.”

Édouard mengalihkan perhatiannya kepada Tatsuya dan ekspresinya agak berubah. Keningnya berkerut seakan berusaha mengingat-ingat. “Oh, bukankah kau yang...?”

Tatsuya tersenyum. “Wah, masih ingat padaku?”

Édouard menjentikkan jari. “Kau yang waktu itu ada di sini.”

Tara memandang mereka dengan heran. Apa yang sedang mereka bicarakan ini? “Kalian saling kenal?” tanyanya.

“Tidak juga,” sahut Tatsuya. “Aku mengenalnya dengan nama Hugo, tapi ternyata namanya bukan Hugo.”

Tara masih tidak mengerti.

Édouard tiba-tiba menunjuk Tatsuya dengan penuh semangat dan berkata kepada Tara, “Tanyakan padanya!”

Tara mengerjap-ngerjapkan mata. “Apa?”

“Sudah kubilang kau selalu memanggilku dengan nama lain begitu kau sudah mabuk. Kau tidak pernah percaya padaku,” celoteh Édouard menggebu-gebu. “Sekarang kau boleh tanya padanya. Dia dengar sendiri ketika kau tidak mau berhenti minum dan terus memanggilku Hugo.”

Tara melongo. Apa yang sedang dibicarakan Édouard? Hugo siapa? Siapa yan gmabuk? Apa hubungannya dengan Tatsuya?

“Kau ingat hari Sabtu itu ketika kau baru kembali dari Indonesia?” Édouard menjelaskan dengan nada tidak sabar ketika melihat Tara masih terbengong-bengong. “Malam itu kau datang ke sini untuk minum-minum sendirian karena kau bilang Sebastien pergi entah ke mana. Ingat?”

Oh... Tara ingat hari itu. Ia memang kesal setengah mati pada Sebastien karena tidak datang menjemputnya di bandara. Ia bahkan sudah menunggu lama di kafe bandara. Lalu malamnya ia datang ke La Vue untuk minum-minum.

“Saat itu temanmu ini juga ada di sini,” kata Édouard sambil menunjuk Tatsuya, lalu ia mengerutkan kening. “Tunggu dulu... waktu itu kau sudah kenal dengannya?”

Pertanyaan itu ditujukan kepada Tatsuya, jadi Tatsuya menggeleng.

“Jadi kalian baru berkenalan setelah itu?” tanya Édouard lagi.

Tatsuya mengangguk sambil tersenyum.

Tara memandang Tatsuya dengan bingung. “Kita pernah bertemu di sini?” tanyanya ragu. Ia menggali ingatannya, tetapi tetap tidak menemukan petunjuk apa pun yang mengarah pada pertemuannya dengan Tatsuya di kelab ini. Aneh... Ia bukan orang yang gampang melupakan sesuatu. Ia malah bisa dikategorikan sebagai orang yang punya ingatan baik.

Tatsuya mendesah dan menggeleng-gelengkan kepala. “Ternyata kau benar-benar sudah mabuk malam itu. Kau bahkan tidak ingat pernah berbicara padaku? Kau juga tidak ingat pernah memanggilnya dengan nama Hugo?”

Kenapa Hugo terdengar tidak asing? Tara berpikir-pikir. Lalu ia teringat e-mail yang dikirim Tatsuya ke acara Je me souviens.... Kelab tempat Tatsuya bertemu gadis di bandara... Hugo si bartender... Gadis di bandara...?

“Kau sudah ingat?” tanya Tatsuya.

Tara menatap laki-laki itu dengan mata yang melebar. “E-mail yang kaukirimkan ke stasiun radio... Kejadian itu adalah ketika kau bertemu denganku? Di sini? Jadi... jadi itu artinya gadis yang kautemui di bandara itu...”

“Kau, Tara-chan,” Tatsuya menyelesaikan kalimat Tara.

“Oh?”

Tara mengerjap-ngerjapkan mata. Tercengang. Bagaimana bisa? Apakah dia sedang bermimpi? Tapi bahkan dalam mimpi pun ia tidak pernah berpikir dirinya adalah gadis yang telah membuat Tatsuya terpesona di bandara.

Seakan merasakan keraguan Tara, Tatsuya menatap lurus-lurus ke mata Tara. “Kaulah yang kulihat di kafe bandara. Saat itu kopermu menyenggol koperku. Dan malam harinya, kaulah yang kutemui di sini ketika aku sedang menunggu temanku. Kau sudah mabuk dan masih tidak mau mengakuinya. Malah memanggil orang dengan nama yang salah. Kau benar-benar tidak ingat?”

Tara tidak bisa berkata apa pun. Kenapa ia sama sekali tidak ingat pernah melihat Tatsuya? Ia memang ingat kalau ia masuk ke kafe bandara dengan darah mendidih karena Sebastien tidak datang menjemputnya, karena itu ia tidak sadar dan tidak peduli kopernya menyenggol benda apa pun. Lalu malam itu, ia juga masih kesal sehingga memutuskan untuk minum-minum sebentar. Memang saat itu ia ingat ada seseorang di dekatnya ketika ia berbicara dengan Édouard, tapi ia tidak ingat wajah orang itu. Ternyata itu Tatsuya?

“Tapi kau tidak menunjukkan tanda-tanda kau pernah melihatku,” gumam Tara masih bingung.

“Tentu saja tidak,” sahut Tatsuya tegas. “Aku tidak ingin kau menganggapku penguntit atau semacamnya. Lagi pula kau sendiri tidak sadar kau pernah bertemu denganku.”

Tara merenung. Mungkinkah itu sebabnya ia merasa ada sesuatu yang tidak asing ketika Sebastien pertama kali memperkenalkannya kepada Tatsuya? Mungkinkah itu karena tanpa sadar ia mengingat wajah Tatsuya? Hmm... sepertinya bukan itu.

“Kau tahu betapa terkejutnya aku ketika melihatmu lagi bersama Sebastien?” Tatsuya melanjutkan. “Gadis yang membuatku terpesona di bandara ternyata adalah teman Sebastien Giraudeau. Aku nyaris tidak percaya pada penglihatanku. Dan nyaris tidak percaya karena akhirnya aku bisa berkenalan denganmu.”

* * *

“Kenapa kalian berdua lama sekali?” protes Sebastien ketika Tara dan Tatsuya kembali ke meja. “Hanya mengambil minuman.”

Pesta minuman kembali dilanjutkan. Malam semakin larut dan suasana semakin meriah. Tatsuya merasa gembira. Inilah pertama kalinnya ia merasa bebas sejak menginjakkan kakinya di Paris.

Tapi perasaan itu ternyata tidak bertahan lama.

Ketika mereka asyik mengobrol, tiba-tiba Tara menyelutuk, “Lho, Papa! Papa!”

Semua orang menoleh, termasuk Tatsuya. Dan saat itulah kegembiraannya langsung sirna tak berbekas.

Tara bangkit dari kursi dan menyongsong seorang pria tinggi berambut cokelat yang menghampiri meja mereka. Kening Tatsuya berkerut bingung melihat sosok pria yang terasa tidak asing itu.

“Papa,” seru Tara gembira sambil merentangkan kedua tangannya.

“Victoria, ma chérie,” kata pria itu dan merangkul Tara.

Saat itulah Tatsuya melihat wajah pria itu dengan jelas dan darahnya mendadak membeku.

Papa...? Victoria...?

Tara menarik lengan pria itu ke meja mereka dan berkata pada teman-temannya dengan nada bangga, “Teman-teman, bagi kalian yang belum pernah melihat ayahku, ini dia, pemilik kelab yang keren ini.”

Tatsuya duduk mematung. Matanya terbelalak menatap pria di hadapannya. Dunia seakan hening seketika. Ia tidak bisa mendengar suara di sekitarnya, tidak bisa merasakan jantungnya berdebar, tidak bisa merasakan darahnya mengalir di dalam tubuhnya. Ia bahkan tidak bisa menghirup udara.

Ayah Tara tersenyum ramah dan mengamati wajah-wajah yang duduk mengelilingi meja bundar itu, sampai pandangannya terhenti pada Tatsuya dan ekspresinya berubah. Heran... dan terkejut.

Tatsuya bisa merasakan kekagetan di mata pria itu. Tatsuya memahaminya. Ia sendiri juga merasakan hal yang sama. Pria yang sekarang ini sedang merangkul pundak Tara memang diperkenalkan sebagai ayah Tara, tetapi Tatsuya lebih mengenalnya dengan nama Jean-Daniel Lemercier, orang yang baru diketahuinya sebagai ayah kandungnya.


Sembilan
TATSUYA keluar dari restoran dan mengembuskan napas panjang. Selesai! Mimpi buruknya berakhir sudah. Beban yang selama ini mengimpit dadanya terangkat sudah. Kalau dipikir-pikir, dulu ia bertindak bodoh. Kenapa ia harus menunggu selama itu untuk bertemu dengan ayah kandungnya sendiri? Kenapa?
Tentu saja karena ia takut. Saat itu ia takut ayah kandungnya akan menolak percaya dan takut situasinya malah semakin parah. Ia juga akan frustrasi. Walaupun ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak butuh pengakuan, tapi bagaimana jadinya bila kau tahu orang itu adalah ayah kandungmu dan dia menolakmu? Siapa pun tidak suka ditolak, terlebih oleh orangtua kandung sendiri.
Namun terbukti ketakutannya tidak beralasan sama sekali karena Jean-Daniel Lemercier sangat berbeda dari apa yang dia bayangkan sebelumnya. Tatsuya senang akhirnya mereka berhasil melalui saat-saat sulit itu.

Tiba-tiba saja Paris terlihat jauh lebih indah. Daun-daun yang berguguran tidak lagi terasa tragis baginya. Tatsuya menghirup udara dalam-dalam, seakan ingin menghilangkan sisa masalah yang mengganjal di dada. Di saat-saat seperti ini orang pertama yang muncul dalam pikirannya adalah gadis yang seperti obat penenang baginya. Tara Dupont.

Ia mengeluarkan ponselnya, menekan beberapa tombol, dan menmpelkan benda itu ke telinga. Ia menunggu sebentar. Begitu terdengar suara di ujung sana, senyumnya otomatis mengembang.

“Tara-chan, kau punya waktu?... Sebentar saja... Ya, sekarang... Aku ingin bertemu denganmu.”

* * *

“Ayah kandungmu?” Mata Tara terbelalak. Ia mengibaskan-ngibaskan tangan, lalu bertanya sekali lagi, “Kau tadi bilang, ayah kandungmu?”

“Mm-hmm,” sahut Tatsuya santai.

Mereka berdua duduk di bangku panjang di pinggir jalan, di bawah pohon-pohon yang daunnya berwarna cokelat, tidak jauh dari stasiun radio tempat Tara bekerja. Tatsuya baru saja menceritakan tentang pertemuannya dengan cinta pertama ibunya yang juga adalah ayah kandungnya.

Tara terpana, kaget dengan berita itu. Kejutan lain dari Tatsuya Fujisawa. Kemudian ia menatap Tatsuya dengan ragu-ragu. “Apa yang kaurasakan sekarang?” tanyanya hati-hati.

Tatsuya tersenyum. “Aku lega semuanya sudah selesai.”

“Ayah kandungmu itu... orang baik?”

Tatsuya mengangguk. “Mm... Kelihatannya begitu.”

Tara terdiam. Ia belum pernah menemui masalah seperti ini sebelumnya, jadi tidak tahu harus berkata apa untuk menghibur ataupun mendukung Tatsuya. Tiba-tiba pundaknya terasa berat. Ia menoleh dan melihat kepala Tatsuya bersandar di pundaknya. Ia terkesiap dan wajahnya memanas.

“Tatsuya, kau sedang apa?” tanyanya heran.

“Sebentar saja,” gumam Tatsuya, tanpa mengangkat kepala. “Biarkan aku begini sebentar saja. Aku capek sekali.”

Tara pun berhenti bergerak-gerak. Ia bahkan menahan napas dan berusaha meredakan debar jantungnya yang semakin cepat, takut Tatsuya mendengarnya.

“Aku baru tahu sekarang kenapa ibuku selalu memaksaku belajar bahasa Prancis sejak aku kecil,” gumam Tatsuya dengan mata terpejam. “Ternyata Ibu ingin aku bisa bertemu dengan ayahku suatu hari nanti.”

Beberapa saat kemudian Tatsuya mengangkat kepala dan menatap Tara sambil tersenyum. “Lega sekali karena masalahku sudah selesai,” katanya. “Bagaimana kalau kita merayakannya malam ini?”

Tara bertepuk tangan. “Ah, benar! Kau pernah janji mau masak kari. Malam ini? Oke?”

Tatsuya tergelak. Ia mengulurkan sebelah tangan dan menyentuh kepala Tara. “Oke.”

Saat itu Tara hanya bisa tercengang. Sesaat ketika Tatsuya membelai kepalanya, ia tidak bisa merasakan degup jantungnya sendiri.

* * *

Tatsuya baru saja duduk di depan meja kerjanya ketika Sebastien menghambur masuk ke ruangan.

“Di sini rupanya,” kata Sebastien sambil berdiri di hadapannya.

Tatsuya memandang temannya dengan bingung. “Sebastien? Ada masalah?”

Sebastien mengibaskan tangannya. “Bukan masalah pekerjaan. Aku datang ke sini untuk menanyakan sesuatu yang pribadi.”

Tatsuya menyandarkan tubuh dan mendengarkan.

“Aku sudah mendengar dari Tara bahwa kalian berdua sering bertemu,” kata Sebastien sambil berjalan mondar-mandir di ruang kerja Tatsuya.

Tatsuya mengangguk sekali. “Ya, benar,” sahutnya. Lalu ia teringat sama sekali belum pernah memberitahu Sebastien tentang hubungannya dengan Tara.

Sebastien berhenti mondar-mandir dan menatapnya sambil berkacak pinggang. “Apa tujuanmu?” tanyanya langsung.

Tatsuya mengerjapkan mata. “Apa tujuanku?”

Sebastien menarik kursi dan duduk di hadapan Tatsuya. Raut wajahnya serius. “Dengar,” katanya, berusaha mencari kata-kata yang tepat. “Tara sudah seperti adikku sendiri. Aku tidak mau kau mempermainkannya.”

“Astaga! Sebastien...”

“Aku serius, Tatsuya,” sela Sebastien. “Aku tidak tahu bagaimana bentuk hubungan kalian, tapi aku hanya ingin mengingatkanmu. Jangan main-main dengannya.”

Tatsuya menghela napas dan mengangkat kedua tangan. “Sebastien, aku mengerti maksudmu. Tapi kenapa kau tiba-tiba bersikap begini? Apakah kau selalu begini dengan setiap laki-laki yang dekat dengannya?”

“Tidak,” sahut Sebastien. “Karena sebelum ini Tara tidak pernah menunjukkan gejala-gejala ia menyukai laki-laki mana pun.”

Alis Tatsuya terangkat. Tiba-tiba percakapan ini menjadi menarik.

“Lalu maksudmu sekarang dia menunjukkan gejala-gejala itu?” tanya Tatsuya tanpa bisa menahan rasa senang yang tiba-tiba saja terbit dalam hatinya.

“Demi Tuhan! Tatsuya, jangan senyum-senyum begitu. Aku tidak sedang bercanda,” kata Sebastien tidak sabar. “Dengar, aku merasa dia mulai menyukaimu. Jadi kalau kau tidak serius dengannya, cepat-cepatlah menyingkir. Aku tidak ingin Tara sakit hati atau semacamnya gara-gara kau.”

Itu kabar yang bagus sekali. Senyum Tatsuya elebar, lalu berubah menjadi tawa kecil.

“Tatsuya, kau dengar atau tidak?” tanya Sebastien dengan nada datar.

Tatsuya mengangkat kedua tangannya. “Aku mengerti, Teman. Sungguh, aku mengerti maksudmu.” Kemudian ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan melanjutkan, “Tenang saja, Sebastien. Aku tidak main-main dengan Tara-chan. Aku tahu apa yang harus kulakukan.”

Sebastien menatapnya dengan heran. “Tara-chan?”

* * *

“Tara, dari mana saja kau?” tanya Élise begitu Tara kembali ke meja kerjanya.

Tara menghela napas dan tersenyum. Hatinya berbunga-bunga.

Élise menatapnya dengan pandangan menyelidik. “Baru bertemu seseorang?”

Tara mengangguk-angguk, menikmati rasa penasaran temannya.

Élise menengadah, lalu kembali menatap Tara. “Pasti bukan Sebastien.”

Alis Tara terangkat. Bagaimana temannya bisa menebak begitu? Ia membuka mulut, “Bagaim...”

Tepat pada saat itu ponselnya berdering. Tara mengangkat jari telunjuknya menyuruh Élise menunggu sebentar, lalu menjawab ponselnya.

“Halo?... Oh, Papa!” Tara memindahkan ponselnya dari telinga kiri ke telinga kanan. “Malam ini? Tidak bisa... Mm, aku sudah punya janji... Oke, lain kali saja.... Aku akan ke tempat Papa kalau tidak sibuk.... Hari ini Papa boleh makan bersama salah satu pacar Papa.... Oke?... Oke... Sampai jumpa.”

“Dengan Monsieur Fujitatsu?” tanya Élise langsung.

Tara mengerjap-ngerjapkan matanya. “Apa?” Lalu ia teringat pembicaraan mereka sebelum ayahnya menelepon. “Ooh... Bagaimana kau bisa tahu?”

Élise tersenyum puas. “Jangan meremehkan Élise Lavoie. Aku pandai menebak yang masalah begini. Kau sadar, tidak, akhir-akhir ini kau sering menyebut-nyebut nama Tatsuya?”

Tara berpikir-pikir, lalu menggeleng.

“Dulu kau sering menyebutnama Sebastien,” jelas Élise. “Tapi sekarang kau lebih sering menyebut nama Tatsuya. Dulu kau menunggu-nunggu telepon dari Sebastien, sekarang kau tersenyum seperti orang gila kalau Tatsuya menelepon. Kau tentu tahu apa artinya semua itu.”

Oh... Memangnya dia begitu? Tara tidak merasa ia melakukan semua yang dikatakan Élise. Ia memang senang setiap kali mendapat telepon dari Tatsuya, tapi apakah ia sering membicarakan Tatsuya? Hmm...

“Kau sadar apa artinya?” tanya Élise sekali lagi.

“Apa?”

“Kau menyukainya.”

“Siapa?”

“Tatsuya, tentu saja. Siapa lagi?”

Tara mengerjap-ngerjapkan matanya. “Benarkah?”

Élise mendesah. “Kau sungguh tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?”

Tara menggeleng-geleng. Ia tidak tahu perasaannya. Sungguh. Bukankah selama ini ia menyukai Sebastien? Masa begitu mudahnya ia beralih ke laki-laki lain?

“Coba jawab pertanyaanku,” kata Élise serius. “Ketika kau bersama Tatsuya Fujisawa, apakah kau merasa bahagia?”

Tara berpikir sebentar, lalu mengangguk.

“Ketika kalian mengobrol, apakah kau pernah merasa bosan?”

Tara cepat-cepat menggeleng. Tidak pernah. Laki-laki itu tidak pernah membuatnya bosan. Malah selalu mengejutkannya.

“Apakah jantungmu berdebar dua kali lebih cepat setiap kali dia menatapmu atau tersenyum kepadamu?”

Tara berpikir lagi, dan akhirnya mengangguk. Bahkan kadang-kadang jantungnya serasa berhenti berdegup.

“Tadi... Ketika aku menemuinya tadi,” katanya perlahan. “Dia sempat menyentuh kepalaku. Seperti ini.” Ia menyentuh puncak kepalanya sendiri dengan telapak tangannya. “Hanya sebentar, tapi jantungku langsung tidak keruan. Aku belum pernah merasa seperti ini. Apa yang terjadi, Élise?”

Élise menopang dagunya dengan sebelah tangan dan tersenyum senang. “Lihat saja dirimu. Aku sudah mengatakannya padamu. Apa perlu kuulangi?”

“Tapi, Élise, bukankah aku menyukai Sebastien?” tanya Tara bingung. Ia tahu ia kedengarannya seperti orang bodoh karena bertanya pada orang lain mengenai perasaannya sendiri. “Bagaimana mungkin aku bisa menyukai dua orang sekaligus? Itu tidak benar.”

Élise menghela napas. “Baiklah, aku akan bertanya lagi.”

Tara memandang temannya, berharap Élise punya cara untuk mendapatkan kesimpulan yang tepat.

“Ketika kau bersama Sebastien, apakah kau merasa bahagia?” Élise mengulangi pertanyaannya.

Tara mengangguk. Ya, tentu saja. Sangat menyenangkan bersama Sebastien.

“Ketika kalian mengobrol, apakah kau pernah merasa bosan?”

Tara menggeleng. Mereka tidak pernah kehabisan bahan obrolan.

“Apakah jantungmu berdebar dua kali lebih cepat setiap kali dia menatapmu atau tersenyum kepadamu?”

Kali ini Tara tidak langsung menjawab. Ia mengetuk dagunya dengan ujung jari telunjuk dan berpikir. Tidak, sepertinya jantungnya tidak berdebar kencang kalau bersama Sebastien. Ia memang senang bersama laki-laki itu, tapi tidak ada perasaan seperti napas tercekat, jantung berdebar kencang, atau bahkan jantung seakan berhenti berdetak. Biasa saja.

Tara menggeleng pelan.

Élise tersenyum puas. “Nah, lihat, kan? Kau menyukai mereka berdua, hanya saja rasa sukamu berbeda antara Sebastien dan Tatsuya.”

Tara mengerjapkan matanya seakan baru tersadar dari mimpi.

“Kau menyukai Sebastien sebagai teman, tapi kau menykai Tatsuya sebagai laki-laki,” Élise menyimpulkan.

Tara masih tetap diam.

“Ngomong-ngomong, kau sudah mengajaknya ke pestaku?” tanya Élise.