"Kamu pergi ketika saya sudah sangat nyaman bersamamu. Kamu lari
ketika saya sudah sangat mencintamu. Kamu menghilang tanpa
bilang-bilang, sementara aku yang terlanjur mencintaimu hanya bisa
berharap Tuhan membuatmu sadar. Bahwa di sini, ada aku, yang mendoakanmu
tanpa henti."
Aku duduk di kafe tempat pertama kali kita bertemu. Kafe yang
kautunjukan untukku sebagai tempat menulis yang menyenangkan di sekitar
tempatku dan tempatmu. Di langit Cibinong yang sedang hujan deras, aku
meneguk lychee tea yang dingin. Ada kehampaan di sini yang aku rasakan
karena tidak ada kamu yang duduk di sampingku. Dan, suara Marcell, tidak
menjadi penenang bagiku. Lagu Firasat mengalun di telinga, menjalar ke
hatiku, kemudian membuat dadaku sesak.
Aku ingat saat pertama kali bertemu denganmu di sini, setelah puluhan
kali kamu memintaku bertemu, dan aku terus menolaknya. Hari itu,
kutemukan pria bermata sipit, berpipi tembab, yang sedang merokok di
dekat meja kasir. Aku menghampirimu dan menyalami tanganmu. Saat itu,
mata kita bertemu, dan bolehkah aku mengaku, hari itu-- aku sudah jatuh
cinta padamu. Kita berbicara seakan tidak akan pernah kehabisan bahan
celotehan. Aku langsung jatuh cinta pada caramu tersenyum, pada suara
tawamu, pada caramu memanggil namaku, pada asap rokokmu yang membumbung
di udara, pada kedua lesung pipimu, dan pada caramu menatapku.
Setelah hari itu, kamu menjelma menjadi pria yang pesannya selalu aku
tunggu. Aku menunggu kesibukanmu usai agar malam hari kita bisa
berkomunikasi, agar bisa kudengar suaramu dari ujung telepon, dan agar
rasa rindu yang penuh di dadaku bisa sedikit mengecil atau mereda. Tapi,
aku tidak bisa menahan diri untuk tidak merindukanmu. Rasa itu semakin
membungkamku ketika aku harus mengisi workshop penulisan novel di
Bangkalan, Madura. Kamu terus memantauku di tengah kesibukanmu. Kamu
mengirimku sebuah nyanyian melalui voice note. Meskipun saat itu berada
sangat jauh denganmu, namun kurasakan napas dan dirimu selalu
mengikutiku.
Sepulang dari Bangkalan, Madura, kita memutuskan untuk kembali bertemu
pada pertemuan kedua. Aku membawa rasa rindu yang menggebu di dadaku,
tetapi kamu ternyata membawa kabar buruk untukku. Di tengah rangkul
pelukmu yang hangat, kamu akhirnya mengaku bahwa kamu sangat
mencintaiku. Dengan anggukan bahagia, aku menatapmu terharu, kamu
mengecup keningku. Kebahagiaanku merangkak naik menuju level tertinggi.
Beberapa detik kemudian, kamu mulai menceritakan kisah hidupmu, hingga
pada kisah bahwa sebenarnya kamu telah memiliki kekasih terlebih dahulu
sebelum mengenalku. Tahukah kamu apa yang kurasakan saat itu? Rasanya
aku ingin meledak, melepas pelukmu, dan aku merasa marah pada diriku
sendiri.
Selama kedekatan kita, kamu memang tidak memberi status hubungan apapun.
Aku pun tidak memaksakan agar kita segera memiliki status, tapi mengapa
aku marah ketika tahu kamu sudah bersama yang lain? Aku menatap matamu
dengan mataku yang berair. Kamu menangkap kesedihan itu dan segera
memelukku dengan erat. Namun, mengapa aku tidak bisa melepaskan pelukmu
yang erat itu? Peluk yang bukan hakku, peluk yang bukan milikku. Dalam
pelukmu, aku menangis sejadi-jadinya. Rasanya sangat tidak adil, aku
sedang berada di puncak sangat mencintaimu, dan kenyataan yang
kaubicarakan itu benar-benar telah menghancurkan mimpi-mimpi megah yang
telah aku bangun.
Aku sudah membayangkan suatu hari akan mengenalkanmu pada ibuku. Aku
sudah berharap bisa membawamu serta ke dalam workshop-workshop menulis
novel di sekitar Jakarta. Aku sudah membayangkan bahagianya bisa berada
dalam status hubungan yang spesial bersamamu. Aku membayangkan setiap
hari berpeluk denganmu di tengah kesibukan kita berdua. Kamu sudah
membuatku terbiasa dengan pelukmu, dengan hangatnya kecupmu, dengan rasa
humoris yang selalu kautunjukan padaku, dengan keliaran menyenangkan
yang hanya kita ketahui berdua, dengan segala hal bodoh yang membuat aku
bisa menjadi diriku sendiri ketika bersamamu, namun mengapa kaujustru
pergi ketika kamu telah membuatku sangat terbiasa pada kebahagiaan akan
hadirmu?
Hingga hari ini, aku masih merasa semua tidak adil. Kamu bilang kamu
sangat mencintaiku, tapi semalam kamu menginginkan hubungan kita segera
berakhir. Dengan alasan kamu tidak ingin membohongiku dan menyakitiku
terlalu jauh. Tapi, sebagai yang bukan siapa-siapa, memang aku tidak
berhak melarang apa-apa. Bagaimana mungkin aku begitu mudah terjebak
pada segala perlakuan manismu, ketika aku pada akhirnya tahu-- kamu
sudah lebih dulu memiliki kekasih yang lain.
Andai kautahu, aku masih mencintaimu sedalam ketika kita pertama kali
bertemu. Aku masih mencintaimu, sekuat ketika pertama kali kamu mengecup
keningku. Aku masih mencintaimu, semagis ketika pertama kali
kausebutkan namamu. Aku masih mencintaimu, seperti pertama kali pelukmu
benar-benar menghangatkanku. Aku masih mencintaimu, bahkan ketika kamu
memilih pergi dari hidupku dengan alasan yang tidak aku pahami sama
sekali, dengan alasan klise yang sulit kuterima dengan logika.
Aku merasa sangat kehilangan, meskipun mungkin kamu tidak merasakan
apa-apa. Aku merasa takut kehilangan, meskipun kamu bukan milikku. Aku
merasa kehilangan, kehilangan harapan yang telah susah payah kubangun
untukmu.
Kembalilah padaku ketika kamu bosan dengan kekasihmu. Aku akan tetap
sebodoh itu, mencintaimu tanpa mengemis status dan kejelasan hubungan
kita. Kembalilah padaku, jika dia tidak bisa memberikan kebahagiaan dan
peluk yang cukup hangat untukmu. Aku akan tetap jadi gadis yang bodoh,
yang merindukanmu dalam diam dan kesunyian. Kembalilah padaku, jika
kekasihmu tidak bisa menjaga perasaanmu. Karena aku akan tetap di sini,
tetap menunggumu di belakang sini, tetap menjadi Dwita yang tolol-- yang
menunggu kamu pulang.
Untuk Ren,
yang tidak akan pernah tahu,
dan tidak akan mau tahu,
siapa yang paling tersiksa,
dalam hubungan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar