Minggu, 18 Mei 2014



Sepuluh

“INI tempatnya?” tanya Tatsuya ketika mereka tiba di depan kelab mewah bernama La Vue.

Tara mengangguk. “Ini kelab paling keren di Paris,” katanya bangga. “Kau pernah ke sini?”

Tatsuya tersenyum dan mengangguk. “Pernah. Satu kali.”

Masih jelas sekali dalam ingatannya ketika ia datang ke kelab ini. Di sinilah ia bertemu kembali dengan si gadis dari bandara itu. Ia juga penasaran apakah si “Hugo” masih menjadi bartender di tempat ini.

“Kelab yang bagus, bukan? Ini salah satu kelab milik ayahku,” lanjut Tara sambil menarik tangan Tatsuya. “Ayo, masuk.”

* * *

“Hei, dia tampan,” bisik Élise di dekat Tara. “Tangkapan yang bagus.”

Tara mendesis dan menyiku lengan temannya, takut Tatsuya yang duduk di sebelahnya mendengar apa yang baru dikatakan Élise.

“Tangkapan? Memangnya dia ikan?” tukas Tara lirih.

Élise tidak peduli dan melanjutkan, “Kau beruntung. Kalau aku belum punya Olivier, sudah kurebut dia darimu.”

Tara tertawa. Ia memerhatikan temannya meneguk bir yang tersisa di botol sampai habis. Sepertinya Élise sudah agak mabuk, tapi dia tidak sendirian. Sebastien juga sudah terlihat mabuk karena mereka minum terus sejak tadi. Berbotol-botol bir dan gelas-gelas koktail kosong bertebaran di meja bundar itu.

Élise hanya mengundang beberapa orang untuk merayakan hari ulang tahunnya. Selain Élise dan pacarnya, Olivier, yang hadir di sana hanya Tara, Tatsuya, Sebastien, dan Juliette. Seperti yang sudah diduga Tara, Sebastien mengajak pacar barunya untuk dikenalkan kepada teman-temannya.

Harus Tara akui ia merasa agak kecewa karena Juliette sama sekali berbeda dari dugaannya. Juliette yang duduk tepat di hadapannya ini berwajah cantik, bermata hijau dan berambut hitam panjang bukan kuning jagung. Dan dengan menyesal Tara harus mengakui tidak ada orang-orangan sawah yang terlihat seseksi itu.

“Sepertinya bukan cuma aku yang punya pikiran merebut Tatsuya darimu,” kata Élise tiba-tiba.

Tara menoleh dengan cepat ke arah Tatsuya dan melihat Juliette sedang berbicara dengan laki-laki itu. Wajahnya dekat sekali dengan Tatsuya. Sesekali wanita itu tersenyum lebar dan mempertontonkan barisan giginya yang putih dan rapi. Sebastien asyik mengobrol dengan Olivier sehingga tidak terlalu memerhatikan pacarnya yang duduk di sampingnya sedang berusaha selingkuh... dan yang semakin lama semakin dekat dengan Tatsuya. O-oh, tunggu sebentar!

“Kau mau minum lagi? Biar kuambilkan,” kata Tatsuya menawarkan sambil menunjuk gelas Juliette yang sudah kosong.

“Tentu saja,” sahut Juliette dengan senyum manis yang membuat Tara naik darah.

Wanita itu baru akan membuka mulut lagi dan Tara langsung tahu apa yang ingin dikatakannya. Secepat kilat, sebelum Juliette sempat mengucapkan apa pun, Tara menyela dengan suara keras—hampir seperti teriakan pernyataan perang zaman dulu, “Tatsuya, kau mau ke bar? Aku ikut!”

Tara bangkit dari kursi dengan cepat dan melemparkan senyum yang tak kalah manisnya ke arah Juliette yang membalasnya dengan senyum sopan. Wanita itu bahkan tidak boleh bermimpi ingin mendekati Tatsuya. Coba saja kalau berani.

Tara mengikuti Tatsuya ke bar yang ramai.

“Ternyata kau baik sekali,” komentar Tara dengan nada sinis begitu mereka berdiri berdampingan di meja bar.

“Hm? Baik bagaimana?” tanya Tatsuya tidak mengerti.

“Kenapa kau harus mengambilkan minuman untuknya?” tanya Tara ketus, sama sekali tidak memandang Tatsuya. Ia tahu ia terdengar kekanak-kanakan, tetapi ia tidak bisa menahan diri.

Karena tidak mendengar jawaban, Tara melirik Tatsuya sekilas dan mendapati laki-laki itu sedang menatapnya sambil tersenyum.

“Kenapa senyum-senyum?” tanya Tara, lalu mengalihkan pandangan lagi. Ia merasa Tatsuya bisa membaca pikirannya hanya dengan menatap matanya dan itu berbahaya.

“Tara Dupont,” panggil Tatsuya. “Coba pandang aku.”

Karena Tatsuya memanggilnya dengan lembut, Tara tidak punya pilihan lain selain berpaling dengan enggan dan memandang Tatsuya.

“Kau cemburu?” tanya laki-laki itu. Senyumnya makin lebar.

“Tidak,” cetus Tara langsung. Siapa yang cemburu? Tidak ada.

Tatsuya tertawa kecil. Ia mengulurkan tangan dan mengusap kepala Tara. Jantung Tara langsung meloncat tidak beraturan.

“Aku menawarinya minuman lagi sebagai alasan untuk menyingkir dari sana,” kata Tatsuya sambil menatap mata Tara.

“Sungguh?”

Tatsuya mengangguk.

“Kau tidak tertarik padanya?”

Tatsuya menggeleng.

“Sedikit pun tidak?”

Tatsuya berpikir sejenak. “Yah... Dia memang cantik sekali,” gumamnya.

Tara mengerutkan kening.

“Tapi tidak, dia bukan tipeku,” lanjut Tatsuya tenang. Ia berpaling ke arah Tara. “Makanya kau tidak perlu cemas. Kau tahu, kulitmu bisa cepat keriput kalau kau berkerut seperti itu terus.”

Tara mendengus walaupun dalam hatinya senang mendengar ucapan Tatsuya—sebelum laki-laki itu bicara tenang keriput dan semacamnya itu. Untuk menutupi rasa malunya, ia hanya menggerutu tidak jelas.

“Kau mau minum lagi?” tanya Tatsuya.

Tara mengangguk dan mencari-cari bartender yang entah ada di mana.

“Kau tahu, pada saat-saat seperti sekarang inilah aku senang dengan posisiku sebagai anak bos,” kata Tara sambil tersenyum lebar ketika akhirnya ia berhasil melihat bartender di ujung sana.

Tatsuya tidak sempat bertanya apa maksudnya karena Tara sudah memalingkan wajah.

“Édouard!” seru gadis itu sambil melambai-lambaikan tangan ke arah bartender botak yang sedang melayani seorang tamu.

Begitu tahu siapa yang menyerukan namanya, bartender yang dipanggil Édouard itu segera menghampiri mereka dengan senyum lebar yang ramah. “Hai, Tara. Mau pesan apa?”

Tara menatap Tatsuya dengan senyum puas. “Anak bos selalu mendapat pelayanan utama.”

Tatsuya memandang bartender di hadapan mereka dan bertanya pada Tara, “Édouard?”

Tara mengangguk. Ia memperkenalkan kedua pria itu. “Édouard, ini temanku, Tatsuya. Tatsuya, ini Édouard. Dia sudah cukup lama bekerja di sini. Salah satu bartender favorit ayahku,” jelas Tara. “Tapi sayangnya, bukan favoritku, karena dia tidak pernah mengizinkanku minum banyak.”

“Koreksi,” sela Édouard dengan senyum lebar. “Aku tidak pernah mengizinkanmu minum sampai mabuk.”

“Tapi mabuk itu menyenangkan,” gurau Tara.

“Coba katakan itu lagi kalau kau sedang muntah-muntah,” balas Édouard.

Tara mengibaskan tangannya. “Kau terdengar persis seperti ibuku. Ibu tidak pernah mengizinkan aku minum sedikit pun selama aku tinggal di Jakarta. Membosankan. Padahal aku tidak pernah minum sampai mabuk. Aku tahu batasnya.” Ia memiringkan kepalanya ke arah Tatsuya dan berkata, “Temanku ingin menambah minuman.”

Édouard mengalihkan perhatiannya kepada Tatsuya dan ekspresinya agak berubah. Keningnya berkerut seakan berusaha mengingat-ingat. “Oh, bukankah kau yang...?”

Tatsuya tersenyum. “Wah, masih ingat padaku?”

Édouard menjentikkan jari. “Kau yang waktu itu ada di sini.”

Tara memandang mereka dengan heran. Apa yang sedang mereka bicarakan ini? “Kalian saling kenal?” tanyanya.

“Tidak juga,” sahut Tatsuya. “Aku mengenalnya dengan nama Hugo, tapi ternyata namanya bukan Hugo.”

Tara masih tidak mengerti.

Édouard tiba-tiba menunjuk Tatsuya dengan penuh semangat dan berkata kepada Tara, “Tanyakan padanya!”

Tara mengerjap-ngerjapkan mata. “Apa?”

“Sudah kubilang kau selalu memanggilku dengan nama lain begitu kau sudah mabuk. Kau tidak pernah percaya padaku,” celoteh Édouard menggebu-gebu. “Sekarang kau boleh tanya padanya. Dia dengar sendiri ketika kau tidak mau berhenti minum dan terus memanggilku Hugo.”

Tara melongo. Apa yang sedang dibicarakan Édouard? Hugo siapa? Siapa yan gmabuk? Apa hubungannya dengan Tatsuya?

“Kau ingat hari Sabtu itu ketika kau baru kembali dari Indonesia?” Édouard menjelaskan dengan nada tidak sabar ketika melihat Tara masih terbengong-bengong. “Malam itu kau datang ke sini untuk minum-minum sendirian karena kau bilang Sebastien pergi entah ke mana. Ingat?”

Oh... Tara ingat hari itu. Ia memang kesal setengah mati pada Sebastien karena tidak datang menjemputnya di bandara. Ia bahkan sudah menunggu lama di kafe bandara. Lalu malamnya ia datang ke La Vue untuk minum-minum.

“Saat itu temanmu ini juga ada di sini,” kata Édouard sambil menunjuk Tatsuya, lalu ia mengerutkan kening. “Tunggu dulu... waktu itu kau sudah kenal dengannya?”

Pertanyaan itu ditujukan kepada Tatsuya, jadi Tatsuya menggeleng.

“Jadi kalian baru berkenalan setelah itu?” tanya Édouard lagi.

Tatsuya mengangguk sambil tersenyum.

Tara memandang Tatsuya dengan bingung. “Kita pernah bertemu di sini?” tanyanya ragu. Ia menggali ingatannya, tetapi tetap tidak menemukan petunjuk apa pun yang mengarah pada pertemuannya dengan Tatsuya di kelab ini. Aneh... Ia bukan orang yang gampang melupakan sesuatu. Ia malah bisa dikategorikan sebagai orang yang punya ingatan baik.

Tatsuya mendesah dan menggeleng-gelengkan kepala. “Ternyata kau benar-benar sudah mabuk malam itu. Kau bahkan tidak ingat pernah berbicara padaku? Kau juga tidak ingat pernah memanggilnya dengan nama Hugo?”

Kenapa Hugo terdengar tidak asing? Tara berpikir-pikir. Lalu ia teringat e-mail yang dikirim Tatsuya ke acara Je me souviens.... Kelab tempat Tatsuya bertemu gadis di bandara... Hugo si bartender... Gadis di bandara...?

“Kau sudah ingat?” tanya Tatsuya.

Tara menatap laki-laki itu dengan mata yang melebar. “E-mail yang kaukirimkan ke stasiun radio... Kejadian itu adalah ketika kau bertemu denganku? Di sini? Jadi... jadi itu artinya gadis yang kautemui di bandara itu...”

“Kau, Tara-chan,” Tatsuya menyelesaikan kalimat Tara.

“Oh?”

Tara mengerjap-ngerjapkan mata. Tercengang. Bagaimana bisa? Apakah dia sedang bermimpi? Tapi bahkan dalam mimpi pun ia tidak pernah berpikir dirinya adalah gadis yang telah membuat Tatsuya terpesona di bandara.

Seakan merasakan keraguan Tara, Tatsuya menatap lurus-lurus ke mata Tara. “Kaulah yang kulihat di kafe bandara. Saat itu kopermu menyenggol koperku. Dan malam harinya, kaulah yang kutemui di sini ketika aku sedang menunggu temanku. Kau sudah mabuk dan masih tidak mau mengakuinya. Malah memanggil orang dengan nama yang salah. Kau benar-benar tidak ingat?”

Tara tidak bisa berkata apa pun. Kenapa ia sama sekali tidak ingat pernah melihat Tatsuya? Ia memang ingat kalau ia masuk ke kafe bandara dengan darah mendidih karena Sebastien tidak datang menjemputnya, karena itu ia tidak sadar dan tidak peduli kopernya menyenggol benda apa pun. Lalu malam itu, ia juga masih kesal sehingga memutuskan untuk minum-minum sebentar. Memang saat itu ia ingat ada seseorang di dekatnya ketika ia berbicara dengan Édouard, tapi ia tidak ingat wajah orang itu. Ternyata itu Tatsuya?

“Tapi kau tidak menunjukkan tanda-tanda kau pernah melihatku,” gumam Tara masih bingung.

“Tentu saja tidak,” sahut Tatsuya tegas. “Aku tidak ingin kau menganggapku penguntit atau semacamnya. Lagi pula kau sendiri tidak sadar kau pernah bertemu denganku.”

Tara merenung. Mungkinkah itu sebabnya ia merasa ada sesuatu yang tidak asing ketika Sebastien pertama kali memperkenalkannya kepada Tatsuya? Mungkinkah itu karena tanpa sadar ia mengingat wajah Tatsuya? Hmm... sepertinya bukan itu.

“Kau tahu betapa terkejutnya aku ketika melihatmu lagi bersama Sebastien?” Tatsuya melanjutkan. “Gadis yang membuatku terpesona di bandara ternyata adalah teman Sebastien Giraudeau. Aku nyaris tidak percaya pada penglihatanku. Dan nyaris tidak percaya karena akhirnya aku bisa berkenalan denganmu.”

* * *

“Kenapa kalian berdua lama sekali?” protes Sebastien ketika Tara dan Tatsuya kembali ke meja. “Hanya mengambil minuman.”

Pesta minuman kembali dilanjutkan. Malam semakin larut dan suasana semakin meriah. Tatsuya merasa gembira. Inilah pertama kalinnya ia merasa bebas sejak menginjakkan kakinya di Paris.

Tapi perasaan itu ternyata tidak bertahan lama.

Ketika mereka asyik mengobrol, tiba-tiba Tara menyelutuk, “Lho, Papa! Papa!”

Semua orang menoleh, termasuk Tatsuya. Dan saat itulah kegembiraannya langsung sirna tak berbekas.

Tara bangkit dari kursi dan menyongsong seorang pria tinggi berambut cokelat yang menghampiri meja mereka. Kening Tatsuya berkerut bingung melihat sosok pria yang terasa tidak asing itu.

“Papa,” seru Tara gembira sambil merentangkan kedua tangannya.

“Victoria, ma chérie,” kata pria itu dan merangkul Tara.

Saat itulah Tatsuya melihat wajah pria itu dengan jelas dan darahnya mendadak membeku.

Papa...? Victoria...?

Tara menarik lengan pria itu ke meja mereka dan berkata pada teman-temannya dengan nada bangga, “Teman-teman, bagi kalian yang belum pernah melihat ayahku, ini dia, pemilik kelab yang keren ini.”

Tatsuya duduk mematung. Matanya terbelalak menatap pria di hadapannya. Dunia seakan hening seketika. Ia tidak bisa mendengar suara di sekitarnya, tidak bisa merasakan jantungnya berdebar, tidak bisa merasakan darahnya mengalir di dalam tubuhnya. Ia bahkan tidak bisa menghirup udara.

Ayah Tara tersenyum ramah dan mengamati wajah-wajah yang duduk mengelilingi meja bundar itu, sampai pandangannya terhenti pada Tatsuya dan ekspresinya berubah. Heran... dan terkejut.

Tatsuya bisa merasakan kekagetan di mata pria itu. Tatsuya memahaminya. Ia sendiri juga merasakan hal yang sama. Pria yang sekarang ini sedang merangkul pundak Tara memang diperkenalkan sebagai ayah Tara, tetapi Tatsuya lebih mengenalnya dengan nama Jean-Daniel Lemercier, orang yang baru diketahuinya sebagai ayah kandungnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar