Sembilan
TATSUYA keluar dari restoran dan mengembuskan napas
panjang. Selesai! Mimpi buruknya berakhir sudah. Beban yang selama ini
mengimpit dadanya terangkat sudah. Kalau dipikir-pikir, dulu ia bertindak
bodoh. Kenapa ia harus menunggu selama itu untuk bertemu dengan ayah kandungnya
sendiri? Kenapa?
Tentu saja karena ia takut. Saat itu ia takut ayah
kandungnya akan menolak percaya dan takut situasinya malah semakin parah. Ia
juga akan frustrasi. Walaupun ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak
butuh pengakuan, tapi bagaimana jadinya bila kau tahu orang itu adalah ayah
kandungmu dan dia menolakmu? Siapa pun tidak suka ditolak, terlebih oleh
orangtua kandung sendiri.
Namun terbukti ketakutannya tidak beralasan sama
sekali karena Jean-Daniel Lemercier sangat berbeda dari apa yang dia bayangkan
sebelumnya. Tatsuya senang akhirnya mereka berhasil melalui saat-saat sulit
itu.
Tiba-tiba saja Paris terlihat jauh lebih indah.
Daun-daun yang berguguran tidak lagi terasa tragis baginya. Tatsuya menghirup
udara dalam-dalam, seakan ingin menghilangkan sisa masalah yang mengganjal di
dada. Di saat-saat seperti ini orang pertama yang muncul dalam pikirannya
adalah gadis yang seperti obat penenang baginya. Tara Dupont.
Ia mengeluarkan ponselnya, menekan beberapa tombol,
dan menmpelkan benda itu ke telinga. Ia menunggu sebentar. Begitu terdengar
suara di ujung sana, senyumnya otomatis mengembang.
“Tara-chan, kau punya waktu?... Sebentar saja... Ya,
sekarang... Aku ingin bertemu denganmu.”
* * *
“Ayah kandungmu?” Mata Tara terbelalak. Ia
mengibaskan-ngibaskan tangan, lalu bertanya sekali lagi, “Kau tadi bilang, ayah
kandungmu?”
“Mm-hmm,” sahut Tatsuya santai.
Mereka berdua duduk di bangku panjang di pinggir
jalan, di bawah pohon-pohon yang daunnya berwarna cokelat, tidak jauh dari
stasiun radio tempat Tara bekerja. Tatsuya baru saja menceritakan tentang
pertemuannya dengan cinta pertama ibunya yang juga adalah ayah kandungnya.
Tara terpana, kaget dengan berita itu. Kejutan lain
dari Tatsuya Fujisawa. Kemudian ia menatap Tatsuya dengan ragu-ragu. “Apa yang
kaurasakan sekarang?” tanyanya hati-hati.
Tatsuya tersenyum. “Aku lega semuanya sudah
selesai.”
“Ayah kandungmu itu... orang baik?”
Tatsuya mengangguk. “Mm... Kelihatannya begitu.”
Tara terdiam. Ia belum pernah menemui masalah
seperti ini sebelumnya, jadi tidak tahu harus berkata apa untuk menghibur
ataupun mendukung Tatsuya. Tiba-tiba pundaknya terasa berat. Ia menoleh dan
melihat kepala Tatsuya bersandar di pundaknya. Ia terkesiap dan wajahnya memanas.
“Tatsuya, kau sedang apa?” tanyanya heran.
“Sebentar saja,” gumam Tatsuya, tanpa mengangkat
kepala. “Biarkan aku begini sebentar saja. Aku capek sekali.”
Tara pun berhenti bergerak-gerak. Ia bahkan menahan
napas dan berusaha meredakan debar jantungnya yang semakin cepat, takut Tatsuya
mendengarnya.
“Aku baru tahu sekarang kenapa ibuku selalu
memaksaku belajar bahasa Prancis sejak aku kecil,” gumam Tatsuya dengan mata
terpejam. “Ternyata Ibu ingin aku bisa bertemu dengan ayahku suatu hari nanti.”
Beberapa saat kemudian Tatsuya mengangkat kepala dan
menatap Tara sambil tersenyum. “Lega sekali karena masalahku sudah selesai,”
katanya. “Bagaimana kalau kita merayakannya malam ini?”
Tara bertepuk tangan. “Ah, benar! Kau pernah janji
mau masak kari. Malam ini? Oke?”
Tatsuya tergelak. Ia mengulurkan sebelah tangan dan
menyentuh kepala Tara. “Oke.”
Saat itu Tara hanya bisa tercengang. Sesaat ketika
Tatsuya membelai kepalanya, ia tidak bisa merasakan degup jantungnya sendiri.
* * *
Tatsuya baru saja duduk di depan meja kerjanya
ketika Sebastien menghambur masuk ke ruangan.
“Di sini rupanya,” kata Sebastien sambil berdiri di
hadapannya.
Tatsuya memandang temannya dengan bingung.
“Sebastien? Ada masalah?”
Sebastien mengibaskan tangannya. “Bukan masalah
pekerjaan. Aku datang ke sini untuk menanyakan sesuatu yang pribadi.”
Tatsuya menyandarkan tubuh dan mendengarkan.
“Aku sudah mendengar dari Tara bahwa kalian berdua
sering bertemu,” kata Sebastien sambil berjalan mondar-mandir di ruang kerja
Tatsuya.
Tatsuya mengangguk sekali. “Ya, benar,” sahutnya.
Lalu ia teringat sama sekali belum pernah memberitahu Sebastien tentang
hubungannya dengan Tara.
Sebastien berhenti mondar-mandir dan menatapnya
sambil berkacak pinggang. “Apa tujuanmu?” tanyanya langsung.
Tatsuya mengerjapkan mata. “Apa tujuanku?”
Sebastien menarik kursi dan duduk di hadapan
Tatsuya. Raut wajahnya serius. “Dengar,” katanya, berusaha mencari kata-kata
yang tepat. “Tara sudah seperti adikku sendiri. Aku tidak mau kau
mempermainkannya.”
“Astaga! Sebastien...”
“Aku serius, Tatsuya,” sela Sebastien. “Aku tidak
tahu bagaimana bentuk hubungan kalian, tapi aku hanya ingin mengingatkanmu.
Jangan main-main dengannya.”
Tatsuya menghela napas dan mengangkat kedua tangan.
“Sebastien, aku mengerti maksudmu. Tapi kenapa kau tiba-tiba bersikap begini?
Apakah kau selalu begini dengan setiap laki-laki yang dekat dengannya?”
“Tidak,” sahut Sebastien. “Karena sebelum ini Tara
tidak pernah menunjukkan gejala-gejala ia menyukai laki-laki mana pun.”
Alis Tatsuya terangkat. Tiba-tiba percakapan ini
menjadi menarik.
“Lalu maksudmu sekarang dia menunjukkan
gejala-gejala itu?” tanya Tatsuya tanpa bisa menahan rasa senang yang tiba-tiba
saja terbit dalam hatinya.
“Demi Tuhan! Tatsuya, jangan senyum-senyum begitu.
Aku tidak sedang bercanda,” kata Sebastien tidak sabar. “Dengar, aku merasa dia
mulai menyukaimu. Jadi kalau kau tidak serius dengannya, cepat-cepatlah
menyingkir. Aku tidak ingin Tara sakit hati atau semacamnya gara-gara kau.”
Itu kabar yang bagus sekali. Senyum Tatsuya elebar,
lalu berubah menjadi tawa kecil.
“Tatsuya, kau dengar atau tidak?” tanya Sebastien
dengan nada datar.
Tatsuya mengangkat kedua tangannya. “Aku mengerti,
Teman. Sungguh, aku mengerti maksudmu.” Kemudian ia mencondongkan tubuhnya ke
depan dan melanjutkan, “Tenang saja, Sebastien. Aku tidak main-main dengan
Tara-chan. Aku tahu apa yang harus kulakukan.”
Sebastien menatapnya dengan heran. “Tara-chan?”
* * *
“Tara, dari mana saja kau?” tanya Élise begitu Tara
kembali ke meja kerjanya.
Tara menghela napas dan tersenyum. Hatinya
berbunga-bunga.
Élise menatapnya dengan pandangan menyelidik. “Baru
bertemu seseorang?”
Tara mengangguk-angguk, menikmati rasa penasaran
temannya.
Élise menengadah, lalu kembali menatap Tara. “Pasti bukan
Sebastien.”
Alis Tara terangkat. Bagaimana temannya bisa menebak
begitu? Ia membuka mulut, “Bagaim...”
Tepat pada saat itu ponselnya berdering. Tara
mengangkat jari telunjuknya menyuruh Élise menunggu sebentar, lalu menjawab
ponselnya.
“Halo?... Oh, Papa!” Tara memindahkan ponselnya dari
telinga kiri ke telinga kanan. “Malam ini? Tidak bisa... Mm, aku sudah punya
janji... Oke, lain kali saja.... Aku akan ke tempat Papa kalau tidak sibuk....
Hari ini Papa boleh makan bersama salah satu pacar Papa.... Oke?... Oke...
Sampai jumpa.”
“Dengan Monsieur Fujitatsu?” tanya Élise langsung.
Tara mengerjap-ngerjapkan matanya. “Apa?” Lalu ia
teringat pembicaraan mereka sebelum ayahnya menelepon. “Ooh... Bagaimana kau
bisa tahu?”
Élise tersenyum puas. “Jangan meremehkan Élise
Lavoie. Aku pandai menebak yang masalah begini. Kau sadar, tidak, akhir-akhir
ini kau sering menyebut-nyebut nama Tatsuya?”
Tara berpikir-pikir, lalu menggeleng.
“Dulu kau sering menyebutnama Sebastien,” jelas
Élise. “Tapi sekarang kau lebih sering menyebut nama Tatsuya. Dulu kau
menunggu-nunggu telepon dari Sebastien, sekarang kau tersenyum seperti orang
gila kalau Tatsuya menelepon. Kau tentu tahu apa artinya semua itu.”
Oh... Memangnya dia begitu? Tara tidak merasa ia
melakukan semua yang dikatakan Élise. Ia memang senang setiap kali mendapat
telepon dari Tatsuya, tapi apakah ia sering membicarakan Tatsuya? Hmm...
“Kau sadar apa artinya?” tanya Élise sekali lagi.
“Apa?”
“Kau menyukainya.”
“Siapa?”
“Tatsuya, tentu saja. Siapa lagi?”
Tara mengerjap-ngerjapkan matanya. “Benarkah?”
Élise mendesah. “Kau sungguh tidak tahu atau
pura-pura tidak tahu?”
Tara menggeleng-geleng. Ia tidak tahu perasaannya.
Sungguh. Bukankah selama ini ia menyukai Sebastien? Masa begitu mudahnya ia
beralih ke laki-laki lain?
“Coba jawab pertanyaanku,” kata Élise serius.
“Ketika kau bersama Tatsuya Fujisawa, apakah kau merasa bahagia?”
Tara berpikir sebentar, lalu mengangguk.
“Ketika kalian mengobrol, apakah kau pernah merasa
bosan?”
Tara cepat-cepat menggeleng. Tidak pernah. Laki-laki
itu tidak pernah membuatnya bosan. Malah selalu mengejutkannya.
“Apakah jantungmu berdebar dua kali lebih cepat
setiap kali dia menatapmu atau tersenyum kepadamu?”
Tara berpikir lagi, dan akhirnya mengangguk. Bahkan
kadang-kadang jantungnya serasa berhenti berdegup.
“Tadi... Ketika aku menemuinya tadi,” katanya
perlahan. “Dia sempat menyentuh kepalaku. Seperti ini.” Ia menyentuh puncak
kepalanya sendiri dengan telapak tangannya. “Hanya sebentar, tapi jantungku
langsung tidak keruan. Aku belum pernah merasa seperti ini. Apa yang terjadi,
Élise?”
Élise menopang dagunya dengan sebelah tangan dan
tersenyum senang. “Lihat saja dirimu. Aku sudah mengatakannya padamu. Apa perlu
kuulangi?”
“Tapi, Élise, bukankah aku menyukai Sebastien?”
tanya Tara bingung. Ia tahu ia kedengarannya seperti orang bodoh karena
bertanya pada orang lain mengenai perasaannya sendiri. “Bagaimana mungkin aku
bisa menyukai dua orang sekaligus? Itu tidak benar.”
Élise menghela napas. “Baiklah, aku akan bertanya
lagi.”
Tara memandang temannya, berharap Élise punya cara
untuk mendapatkan kesimpulan yang tepat.
“Ketika kau bersama Sebastien, apakah kau merasa
bahagia?” Élise mengulangi pertanyaannya.
Tara mengangguk. Ya, tentu saja. Sangat menyenangkan
bersama Sebastien.
“Ketika kalian mengobrol, apakah kau pernah merasa
bosan?”
Tara menggeleng. Mereka tidak pernah kehabisan bahan
obrolan.
“Apakah jantungmu berdebar dua kali lebih cepat
setiap kali dia menatapmu atau tersenyum kepadamu?”
Kali ini Tara tidak langsung menjawab. Ia mengetuk
dagunya dengan ujung jari telunjuk dan berpikir. Tidak, sepertinya jantungnya
tidak berdebar kencang kalau bersama Sebastien. Ia memang senang bersama
laki-laki itu, tapi tidak ada perasaan seperti napas tercekat, jantung berdebar
kencang, atau bahkan jantung seakan berhenti berdetak. Biasa saja.
Tara menggeleng pelan.
Élise tersenyum puas. “Nah, lihat, kan? Kau menyukai
mereka berdua, hanya saja rasa sukamu berbeda antara Sebastien dan Tatsuya.”
Tara mengerjapkan matanya seakan baru tersadar dari
mimpi.
“Kau menyukai Sebastien sebagai teman, tapi kau
menykai Tatsuya sebagai laki-laki,” Élise menyimpulkan.
Tara masih tetap diam.
“Ngomong-ngomong, kau sudah mengajaknya ke pestaku?”
tanya Élise.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar