Minggu, 18 Mei 2014



Sembilan
TATSUYA keluar dari restoran dan mengembuskan napas panjang. Selesai! Mimpi buruknya berakhir sudah. Beban yang selama ini mengimpit dadanya terangkat sudah. Kalau dipikir-pikir, dulu ia bertindak bodoh. Kenapa ia harus menunggu selama itu untuk bertemu dengan ayah kandungnya sendiri? Kenapa?
Tentu saja karena ia takut. Saat itu ia takut ayah kandungnya akan menolak percaya dan takut situasinya malah semakin parah. Ia juga akan frustrasi. Walaupun ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak butuh pengakuan, tapi bagaimana jadinya bila kau tahu orang itu adalah ayah kandungmu dan dia menolakmu? Siapa pun tidak suka ditolak, terlebih oleh orangtua kandung sendiri.
Namun terbukti ketakutannya tidak beralasan sama sekali karena Jean-Daniel Lemercier sangat berbeda dari apa yang dia bayangkan sebelumnya. Tatsuya senang akhirnya mereka berhasil melalui saat-saat sulit itu.

Tiba-tiba saja Paris terlihat jauh lebih indah. Daun-daun yang berguguran tidak lagi terasa tragis baginya. Tatsuya menghirup udara dalam-dalam, seakan ingin menghilangkan sisa masalah yang mengganjal di dada. Di saat-saat seperti ini orang pertama yang muncul dalam pikirannya adalah gadis yang seperti obat penenang baginya. Tara Dupont.

Ia mengeluarkan ponselnya, menekan beberapa tombol, dan menmpelkan benda itu ke telinga. Ia menunggu sebentar. Begitu terdengar suara di ujung sana, senyumnya otomatis mengembang.

“Tara-chan, kau punya waktu?... Sebentar saja... Ya, sekarang... Aku ingin bertemu denganmu.”

* * *

“Ayah kandungmu?” Mata Tara terbelalak. Ia mengibaskan-ngibaskan tangan, lalu bertanya sekali lagi, “Kau tadi bilang, ayah kandungmu?”

“Mm-hmm,” sahut Tatsuya santai.

Mereka berdua duduk di bangku panjang di pinggir jalan, di bawah pohon-pohon yang daunnya berwarna cokelat, tidak jauh dari stasiun radio tempat Tara bekerja. Tatsuya baru saja menceritakan tentang pertemuannya dengan cinta pertama ibunya yang juga adalah ayah kandungnya.

Tara terpana, kaget dengan berita itu. Kejutan lain dari Tatsuya Fujisawa. Kemudian ia menatap Tatsuya dengan ragu-ragu. “Apa yang kaurasakan sekarang?” tanyanya hati-hati.

Tatsuya tersenyum. “Aku lega semuanya sudah selesai.”

“Ayah kandungmu itu... orang baik?”

Tatsuya mengangguk. “Mm... Kelihatannya begitu.”

Tara terdiam. Ia belum pernah menemui masalah seperti ini sebelumnya, jadi tidak tahu harus berkata apa untuk menghibur ataupun mendukung Tatsuya. Tiba-tiba pundaknya terasa berat. Ia menoleh dan melihat kepala Tatsuya bersandar di pundaknya. Ia terkesiap dan wajahnya memanas.

“Tatsuya, kau sedang apa?” tanyanya heran.

“Sebentar saja,” gumam Tatsuya, tanpa mengangkat kepala. “Biarkan aku begini sebentar saja. Aku capek sekali.”

Tara pun berhenti bergerak-gerak. Ia bahkan menahan napas dan berusaha meredakan debar jantungnya yang semakin cepat, takut Tatsuya mendengarnya.

“Aku baru tahu sekarang kenapa ibuku selalu memaksaku belajar bahasa Prancis sejak aku kecil,” gumam Tatsuya dengan mata terpejam. “Ternyata Ibu ingin aku bisa bertemu dengan ayahku suatu hari nanti.”

Beberapa saat kemudian Tatsuya mengangkat kepala dan menatap Tara sambil tersenyum. “Lega sekali karena masalahku sudah selesai,” katanya. “Bagaimana kalau kita merayakannya malam ini?”

Tara bertepuk tangan. “Ah, benar! Kau pernah janji mau masak kari. Malam ini? Oke?”

Tatsuya tergelak. Ia mengulurkan sebelah tangan dan menyentuh kepala Tara. “Oke.”

Saat itu Tara hanya bisa tercengang. Sesaat ketika Tatsuya membelai kepalanya, ia tidak bisa merasakan degup jantungnya sendiri.

* * *

Tatsuya baru saja duduk di depan meja kerjanya ketika Sebastien menghambur masuk ke ruangan.

“Di sini rupanya,” kata Sebastien sambil berdiri di hadapannya.

Tatsuya memandang temannya dengan bingung. “Sebastien? Ada masalah?”

Sebastien mengibaskan tangannya. “Bukan masalah pekerjaan. Aku datang ke sini untuk menanyakan sesuatu yang pribadi.”

Tatsuya menyandarkan tubuh dan mendengarkan.

“Aku sudah mendengar dari Tara bahwa kalian berdua sering bertemu,” kata Sebastien sambil berjalan mondar-mandir di ruang kerja Tatsuya.

Tatsuya mengangguk sekali. “Ya, benar,” sahutnya. Lalu ia teringat sama sekali belum pernah memberitahu Sebastien tentang hubungannya dengan Tara.

Sebastien berhenti mondar-mandir dan menatapnya sambil berkacak pinggang. “Apa tujuanmu?” tanyanya langsung.

Tatsuya mengerjapkan mata. “Apa tujuanku?”

Sebastien menarik kursi dan duduk di hadapan Tatsuya. Raut wajahnya serius. “Dengar,” katanya, berusaha mencari kata-kata yang tepat. “Tara sudah seperti adikku sendiri. Aku tidak mau kau mempermainkannya.”

“Astaga! Sebastien...”

“Aku serius, Tatsuya,” sela Sebastien. “Aku tidak tahu bagaimana bentuk hubungan kalian, tapi aku hanya ingin mengingatkanmu. Jangan main-main dengannya.”

Tatsuya menghela napas dan mengangkat kedua tangan. “Sebastien, aku mengerti maksudmu. Tapi kenapa kau tiba-tiba bersikap begini? Apakah kau selalu begini dengan setiap laki-laki yang dekat dengannya?”

“Tidak,” sahut Sebastien. “Karena sebelum ini Tara tidak pernah menunjukkan gejala-gejala ia menyukai laki-laki mana pun.”

Alis Tatsuya terangkat. Tiba-tiba percakapan ini menjadi menarik.

“Lalu maksudmu sekarang dia menunjukkan gejala-gejala itu?” tanya Tatsuya tanpa bisa menahan rasa senang yang tiba-tiba saja terbit dalam hatinya.

“Demi Tuhan! Tatsuya, jangan senyum-senyum begitu. Aku tidak sedang bercanda,” kata Sebastien tidak sabar. “Dengar, aku merasa dia mulai menyukaimu. Jadi kalau kau tidak serius dengannya, cepat-cepatlah menyingkir. Aku tidak ingin Tara sakit hati atau semacamnya gara-gara kau.”

Itu kabar yang bagus sekali. Senyum Tatsuya elebar, lalu berubah menjadi tawa kecil.

“Tatsuya, kau dengar atau tidak?” tanya Sebastien dengan nada datar.

Tatsuya mengangkat kedua tangannya. “Aku mengerti, Teman. Sungguh, aku mengerti maksudmu.” Kemudian ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan melanjutkan, “Tenang saja, Sebastien. Aku tidak main-main dengan Tara-chan. Aku tahu apa yang harus kulakukan.”

Sebastien menatapnya dengan heran. “Tara-chan?”

* * *

“Tara, dari mana saja kau?” tanya Élise begitu Tara kembali ke meja kerjanya.

Tara menghela napas dan tersenyum. Hatinya berbunga-bunga.

Élise menatapnya dengan pandangan menyelidik. “Baru bertemu seseorang?”

Tara mengangguk-angguk, menikmati rasa penasaran temannya.

Élise menengadah, lalu kembali menatap Tara. “Pasti bukan Sebastien.”

Alis Tara terangkat. Bagaimana temannya bisa menebak begitu? Ia membuka mulut, “Bagaim...”

Tepat pada saat itu ponselnya berdering. Tara mengangkat jari telunjuknya menyuruh Élise menunggu sebentar, lalu menjawab ponselnya.

“Halo?... Oh, Papa!” Tara memindahkan ponselnya dari telinga kiri ke telinga kanan. “Malam ini? Tidak bisa... Mm, aku sudah punya janji... Oke, lain kali saja.... Aku akan ke tempat Papa kalau tidak sibuk.... Hari ini Papa boleh makan bersama salah satu pacar Papa.... Oke?... Oke... Sampai jumpa.”

“Dengan Monsieur Fujitatsu?” tanya Élise langsung.

Tara mengerjap-ngerjapkan matanya. “Apa?” Lalu ia teringat pembicaraan mereka sebelum ayahnya menelepon. “Ooh... Bagaimana kau bisa tahu?”

Élise tersenyum puas. “Jangan meremehkan Élise Lavoie. Aku pandai menebak yang masalah begini. Kau sadar, tidak, akhir-akhir ini kau sering menyebut-nyebut nama Tatsuya?”

Tara berpikir-pikir, lalu menggeleng.

“Dulu kau sering menyebutnama Sebastien,” jelas Élise. “Tapi sekarang kau lebih sering menyebut nama Tatsuya. Dulu kau menunggu-nunggu telepon dari Sebastien, sekarang kau tersenyum seperti orang gila kalau Tatsuya menelepon. Kau tentu tahu apa artinya semua itu.”

Oh... Memangnya dia begitu? Tara tidak merasa ia melakukan semua yang dikatakan Élise. Ia memang senang setiap kali mendapat telepon dari Tatsuya, tapi apakah ia sering membicarakan Tatsuya? Hmm...

“Kau sadar apa artinya?” tanya Élise sekali lagi.

“Apa?”

“Kau menyukainya.”

“Siapa?”

“Tatsuya, tentu saja. Siapa lagi?”

Tara mengerjap-ngerjapkan matanya. “Benarkah?”

Élise mendesah. “Kau sungguh tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?”

Tara menggeleng-geleng. Ia tidak tahu perasaannya. Sungguh. Bukankah selama ini ia menyukai Sebastien? Masa begitu mudahnya ia beralih ke laki-laki lain?

“Coba jawab pertanyaanku,” kata Élise serius. “Ketika kau bersama Tatsuya Fujisawa, apakah kau merasa bahagia?”

Tara berpikir sebentar, lalu mengangguk.

“Ketika kalian mengobrol, apakah kau pernah merasa bosan?”

Tara cepat-cepat menggeleng. Tidak pernah. Laki-laki itu tidak pernah membuatnya bosan. Malah selalu mengejutkannya.

“Apakah jantungmu berdebar dua kali lebih cepat setiap kali dia menatapmu atau tersenyum kepadamu?”

Tara berpikir lagi, dan akhirnya mengangguk. Bahkan kadang-kadang jantungnya serasa berhenti berdegup.

“Tadi... Ketika aku menemuinya tadi,” katanya perlahan. “Dia sempat menyentuh kepalaku. Seperti ini.” Ia menyentuh puncak kepalanya sendiri dengan telapak tangannya. “Hanya sebentar, tapi jantungku langsung tidak keruan. Aku belum pernah merasa seperti ini. Apa yang terjadi, Élise?”

Élise menopang dagunya dengan sebelah tangan dan tersenyum senang. “Lihat saja dirimu. Aku sudah mengatakannya padamu. Apa perlu kuulangi?”

“Tapi, Élise, bukankah aku menyukai Sebastien?” tanya Tara bingung. Ia tahu ia kedengarannya seperti orang bodoh karena bertanya pada orang lain mengenai perasaannya sendiri. “Bagaimana mungkin aku bisa menyukai dua orang sekaligus? Itu tidak benar.”

Élise menghela napas. “Baiklah, aku akan bertanya lagi.”

Tara memandang temannya, berharap Élise punya cara untuk mendapatkan kesimpulan yang tepat.

“Ketika kau bersama Sebastien, apakah kau merasa bahagia?” Élise mengulangi pertanyaannya.

Tara mengangguk. Ya, tentu saja. Sangat menyenangkan bersama Sebastien.

“Ketika kalian mengobrol, apakah kau pernah merasa bosan?”

Tara menggeleng. Mereka tidak pernah kehabisan bahan obrolan.

“Apakah jantungmu berdebar dua kali lebih cepat setiap kali dia menatapmu atau tersenyum kepadamu?”

Kali ini Tara tidak langsung menjawab. Ia mengetuk dagunya dengan ujung jari telunjuk dan berpikir. Tidak, sepertinya jantungnya tidak berdebar kencang kalau bersama Sebastien. Ia memang senang bersama laki-laki itu, tapi tidak ada perasaan seperti napas tercekat, jantung berdebar kencang, atau bahkan jantung seakan berhenti berdetak. Biasa saja.

Tara menggeleng pelan.

Élise tersenyum puas. “Nah, lihat, kan? Kau menyukai mereka berdua, hanya saja rasa sukamu berbeda antara Sebastien dan Tatsuya.”

Tara mengerjapkan matanya seakan baru tersadar dari mimpi.

“Kau menyukai Sebastien sebagai teman, tapi kau menykai Tatsuya sebagai laki-laki,” Élise menyimpulkan.

Tara masih tetap diam.

“Ngomong-ngomong, kau sudah mengajaknya ke pestaku?” tanya Élise.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar