Minggu, 18 Mei 2014



Delapan
TATSUYA menatap kertas di tangannya, lalu beralih menatap pemandangan Sungai Seine di luar jendela. Ia mengembuskan napas panjang dan kembali menatap nomor telepon yang tertera di kertas yang dipegangnya itu. Akhirnya ia mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menghubungi nomor tersebut.
Jantungnya berdebar keras dan sebelah tangannya yang tidak memegang ponsel dibenamkan ke saku celananya sementara menunggu hubungan tersambung. Kemudian...
“Allô?”
Tatsuya mendengar suara orang itu di ujung sana. Suara seorang pria yang bernada rendah dan dalam. Sesaat ia tidak bisa bersuara. Gugup. Ia sadar ia tidak bisa mundur lagi. Sekarang atau tidak sama sekali.
“Allô?” Suara orang itu terdengar lagi.
Kali ini Tatsuya mengumpulkan segenap tenaga dan keberaniannya dan menjawab, “Bon soir. Benarkah ini Monsieur Jean-Daniel Lemercier?” Nama itu diucapkannya dengan berat sekali.
Sesaat tidak terdengar jawaban, lalu, “Benar, saya sendiri,” sahut pria di ujung sana.
“Selamat malam, Monsieur,” Tatsuya mengulangi. “Saya minta maaf karena mengganggu Anda malam-malam begini, tapi saya berharap bisa bertemu dan berbicara dengan Anda.”
Lawan bicaranya bertanya dengan nada curiga, “Kalau boleh tahu mengenai apa? Dan dengan siapa saya bicara?”
Tatsuya menarik napas. “Ini tentang Sanae Fujisawa,” sahutnya pelan dan jelas.
“Sanae Fujisawa?” pria itu mengulangi, seakan nama itu tidak membangkitkan ingatan apa-apa.
“Mungkin Anda lebih mengenalnya dengan nama Sanae Nakata,” Tatsuya menambahkan dengan cepat. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah Jean-Daniel Lemercier masih ingat? Ingatkah ia pada gadis yang ditemuinya di Jepang hampir tiga puluh tahun yang lalu? Apakah ia masih ingat apa yang terjadi saat itu?
“Nakata?” Nada suara yang terdengar di ujung sana berubah. “Maksudmu, Sanae Nakata?”
Tatsuya tidak menjawab. Ia menunduk dan memejamkan mata. Pria itu masih ingat. Ternyata masih ingat....
“Tunggu sebentar. Tolong katakan padaku apa hubunganmu dengan Sanae? Siapa ini?”
Tatsuya menarik napas dengan susah payah.
“Nama saya Tatsuya Fujisawa. Sanae Nakata adalah ibu saya,” sahut Tatsuya akhirnya. “Dan saya berharap bisa bertemu dengan Anda, Monsieur. Ada yang ingin saya bicarakan.... Besok siang? Baiklah, saya pasti datang.”
* * *
Sebastien meneguk air putih yang disuguhkan sambil melirik jam tangannya. Tara sudah terlambat 23 menit, tapi Sebastien tidak heran. Ia tidak berharap gadis itu bisa muncul tepat waktu, karena itu sama artinya dengan berharap salju turun di bulan Juli.
Hari ini Sebastien mengajak Tara makan siang untuk menebus acara makan siang mereka yang batal beberapa hari yang lalu. Sebastien sudah bersiap-siap menghadapi Tara Dupont yang marah-marah atau Tara Dupont yang merajuk, tapi tadi ketika ia menelepon Tara, gadis itu kedengarannya riang-riang saja. Memang agak aneh, tapi Sebastien berpikir mungkin gadis itu menunggu sampai mereka bertemu muka dan setelah itu Tara akan memuntahkan kekesalannya karena ditinggalkan begitu saja di restoran waktu itu.
Baiklah, Sebastien mengaku ia memang salah, tapi Sebastien yakin bisa menenangkan Tara. Ia sudah lama mengenal gadis itu dan ia tahu bagaimana harus menghadapinya.
Pintu bistro kecil itu terbuka dan Sebastien mengangkat wajah. Tara masuk dan memandang berkeliling ruangan. Sebastien mengangkat sebelah tangan untuk menarik perhatiannya. Gadis itu melihatnya dan langsung tersenyum. Oh, kelihatannya Tara tidak marah.
“Bonjour,” sapa Tara sambil menempelkan pipinya di pipi Sebastien. “Maaf, aku agak terlambat.”
“Aku sudah terbiasa menunggu,” gurau Sebastien.
Aneh... Gadis ini sungguh terlihat biasa-biasa saja. Tidak kesal. Tidak marah.
“Kau tidak mengajak Tatsuya?” tanya Tara setelah ia duduk dan melepas jaketnya.
Sebastien menggeleng. “Tidak,” sahutnya, masih berusaha menebak-nebak jalan pikiran Tara. Apakah gadis itu benar-benar tidak kesal dengan kejadian hari itu? “Tadi aku sudah mengajaknya, tapi katanya dia punya janji makan siang dengan seseorang, jadi dia tidak bisa ikut.”
“Oh?” gumam Tara, lalu membuka menu yang ada di meja. “Kau sudah pesan?”
Pelayan datang menanyakan pesanan. Setelah masing-masing menyebutkan apa yang mereka inginkan, si pelayan mengangguk dan meninggalkan meja mereka. Sebastien baru akan membuak mulut untuk bertanya ketika ponsel Tara berdering.
“Allô?”
Sebastien melihat senyum Tara mengembang.
“Oh, hai! Kau sedang di mana?” tanya gadis itu. “Di jalan?... Aku? Aku sedang makan siang bersama Sebastien.” Tara mengangkat wajahnya menatap Sebastien.
Siapa? Sebastien bertanya pada Tara tanpa suara. Pasit orang yang kenal dengannya juga, karena Tara menyebut-nyebut namanya. Tara memberi isyarat dengan tangannya supaya Sebastien menunggu sebentar.
“Tidak apa-apa. Aku sudah tahu dari Sebastien... Ya, katanya kau punya janji makan siang dengan seseorang,” lanjut gadis itu di telepon. “Dengan siapa?... Oh, baiklah. Nanti saja baru kauceritakan padaku.”
Alis Sebastien terangkat. Lho...?
Tara diam sejenak sambil mengangguk-angguk, lalu berkata, “Sibuk sampai malam?... Mm, aku masih harus siaran nanti... Oke. Sampai nanti.”
Sebastien menunggu sampai Tara mematikan ponsel, lalu bertanya, “Siapa yang menelepon tadi?”
“Tatsuya,” jawab gadis itu polos.
“Tatsuya?” ulang Sebastien. Ia nyaris tidak percaya pada pendengarannya. Apa maksudnya ini? Ia semakin bingung. “Bagaimana Tatsuya bisa meneleponmu? Maksudku, bukankah kalian baru bertemu sekali?”
Tara mengerjapkan matanya, lalu seakan baru menyadari sesuatu, ia bergumam, “Aaah... Benar juga. Aku lupa memberitahumu.”
“Apa?”
Tara tersenyum lebar. “Sebenarnya kami sudah sering bertemu. Kau benar, Sebastien. Dia memang oran gyang baik dan sangat menyenangkan.”
Sebastien mengangkat tangannya, meminta Tara bercerita lebih pelan. “Aku sudah ketinggalan banyak. Coba ceritakan dari awal.”
Tara pun menceritakan semuanya. Setelah selesai ia mengerutkan kening. “Tapi ngomong-ngomong, Tatsuya belum memberitahumu soal ini?”
Sebastien menggeleng. “Di kantor sibuk sekali, jadi kami jarang sekali bertemu,” sahutnya. “Kalaupun bertemu, kami hanya sempat membicarakan masalah pekerjaan. Tidak ada waktu banyak untuk mengobrol. Setiap hari di kantor dia bekerja seperti mesin.”
Tara mengerjapkan mata. “Oh?”
Pelayan datang lagi dan membawakan pesanan mereka. Mereka berdua terdiam sejenak, lalu Sebastien membuka mulut. “Ngomong-ngomong, kau tidak marah padaku?”
Tara mengangkat wajah dan menatap Sebastien dengan pandangan bertanya.
“Hari itu acara makan siang kita batal.”
“Oh... itu,” gumam Tara. Ia mendesis pelan dan mengangguk-angguk. “Sewaktu kau meninggalkanku demi si orang-orangan saw... maksudku, pacarmu itu?”
“Dia bukan pacarku,” Sebastien membela diri. “Setidaknya, belum bisa dibilang pacar.”
“Terserahlah.”
“Lalu, kau tidak marah?” tanya Sebastien lagi.
Tara meletakkan garpunya dan menatap Sebastien dengan tatapan tidak sabar. “Tentu saja aku marah,” katanya jengkel. “Siapa yang tidak marah kalau ditinggalkan begitu saja padahal kau yang lebih dulu mengajakku makan siang.” Lalu sikapnya melunak. “Tapi setelah itu Tatsuya mengajakku makan malam. Kau tahu makanan selalu membuatku terhibur. Dia memasak udon dan mengundangku makan di tempatnya. Ternyata dia pintar sekali memasak. Sayang sekali waktu itu kau tidak bisa ikut. Makan malamnya sangat menyenangkan.”
Sebastien membetulkan letak kacamatanya dengan kening berkerut. Sebenarnya apa yang sedang terjadi antara dua orang itu? Walaupun Tara tidak mengatakan apa-apa, kenapa Sebastien merasa sepertinya gadis itu menyukai Tatsuya?
* * *
Akhirnya Tatsuya berhadapan dengannya.
Jean-Daniel Lemercier yang saat ini duduk di hadapannya adalah seorang pria berusia sekitar lima puluhan yang tampan, tinggi, dan berambut cokelat. Matanya bersinar cerdas. Penampilannya rapi dan terawat.
“Jadi Sanae sudah meninggal dunia?” gumam pria yang lebih tua itu sambil menyesap kopinya dengan perlahan. Suara dan sinar matanya mengandung penyesalan.
Tatsuya mengangguk tanpa menyahut.
Mereka berdua berada di restoran mewah di sebuah hotel berbintang. Mereka sepakat bertemu di sana pada jam makan siang. Ketika Tatsuya tiba di sana, Jean-Daniel Lemercier sudah datang lebih dulu dan menunggunya. Pria itu langsung bertanya mengenai ibunya dan Tatsuya mengatakan ibunya sudah meninggal dunia.
“Tepatnya kapan?” tanya Jean-Daniel Lemercier tanpa menatap Tatsuya. Kelihatannya pria itu agak terguncang dengan kabar itu.
Tatsuya menyahut datar, “Setahun yang lalu.”
Pria yang duduk di hadapannya itu mengangguk muram, dan bertanya lagi, “Dia tidak menderita, bukan?”
Tatsuya terdiam beberapa detik. “Tidak.”
Selama beberapa saat tidak ada yang berbicara, lalu Jean-Daniel Lemercier memecah keheningan. “Aku turut menyesal,” katanya tulus. “Apakah ada yang bisa kulakukan untuk membantu?”
Tatsuya mengeluarkan sepucuk surat dari saku dalam jasnya dan meletakkannya di meja, di depan pria itu. Ia segera menarik kembali tangannya ketika menyadari tangannya sedikit gemetar.
Jean-Daniel Lemercier menatap surat yang disodorkan, lalu beralih menatap Tatsuya. “Apa ini?” tanyanya bingung.
“Ini surat yang ditulis ibuku sebelum Beliau meninggal dunia,” jawab Tatsuya. Ia mengangkat wajah dan memandang Jean-Daniel Lemercier yang sudah memegang surat itu.
“Tapi surat ini ditujukan untukmu,” kata pria itu begitu melihat nama yang tertulis di amplop.
Tatsuya mengangguk. “Memang benar. Tapi saya ingin Anda membacanya, Monsieur. Ibu juga ingin Anda membacanya, karena Beliau menulisnya dalam bahasa Prancis.”
Jean-Daniel Lemercier menurut dan mulai membaca. Kemudian raut wajahnya berubah dan keningnya berkerut. Ia menatap Tatsuya dengan pandangan bertanya.
Tatsuya merasa ada yang menyumbat tenggorokannya. Ia semakin gugup. Telapak tangannya terasa lembap. Inilah yang selalu dikhawatirkannya. Saat ini. Ketika rahasia mulai terbongkar. Ia bahkan sudah mempersiapkan diri dengan berbagai reaksi yang akan diterimanya.
“Ibu tidak pernah berkata apa pun ketika masih hidup. Seperti yang Anda baca di surat itu, Ibu berharap saya bisa bertemu dengan Anda,” kata-katanya semakin berat, “karena ternyata Anda adalah ayah kandung saya.”
Jean-Daniel Lemercier menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan tetap menatap surat di tangannya. Wajahnya pucat.
Selama beberapa saat, tidak ada yang bersuara, sibuk dengan pikiran masing-masing. Tatsuya bisa mendengar debar jantungnya sendiri. Ia bertanya-tanya apa yang dipikirkan pria yang duduk di hadapannya itu. Pria itu menatap lekat-lekat surat yang dipegangnya. Sebelah tangannya bertopang pada lengan kursi dan mengusap-usap pelipisnya.
Tatsuya bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana perasaan Jean-Daniel Lemercier? Apakah ia marah? Sedih? Bingung? Kaget?
Tatsuya menarik napas. “Dalam suratnya Ibu berkata kalau kalian sempat menjalin hubungan. Saya tidak tahu kenapa Anda meninggalkan Ibu ketika Ibu sedang hamil....”
“Aku tidak tahu... ibumu hamil,” sela Jean-Daniel Lemercier. Ia menatap Tatsuya lurus-lurus. Sinar matanya hangat dan bersungguh-sungguh.
Tatsuya menatap mata itu dan tidak menemukan kemarahan di sana. Tidak ada. Ia mendapati dirinya memercayai pria itu.
Pria yang lebih tua itu melanjutkan, “Aku sama sekali tidak tahu. Kalau aku tahu... aku...”
Tatsuya memaksakan seulas senyum. “Saya tidak menyalahkan Anda, Monsieur. Bagaimanapun juga Ibu akhirnya menikah dengan Kenichi Fujisawa, ayah saya. Ayah saya orang yang sangat baik. Tidak pintar, tidak kaya, tapi sangat baik. Ayah menerima Ibu apa adanya dan selalu menganggap saya anak kandungnya sendiri. Tidak ada yang harus disesalkan.”
Jean-Daniel Lemercier masih shock. Ia tidak bisa berkata apa-apa.
Tatsuya melanjutkan. “Saya harap Anda tidak salah paham dengan tujuan saya menemui Anda. Saya tidak kekurangan apa pun, jadi saya tidak ingin meminta apa pun dari Anda. Saya hanya sekadar menuruti permintaan almarhumah ibu saya. Ibu saya ingin agar saya dan ayah kandung saya saling mengenal. Dan sekarang kita... sudah berkenalan, Monsieur.”
Pria yang lebih tua itu menarik napas berat, lalu bertanya, “Apakah kau marah pada ibumu karena tidak memberitahumu lebih awal?”
Tatsuya menunduk. Ia tidak mengira pria itu akan menanyakan hal itu, karena itu ia tidak bisa menjawab. Sebenarnya ya, ia sempat merasa marah. Marah karena dibohongi begitu lama, tapi sekarang...
“Aku harap kau tidak marah kepada ibumu.” Tatsuya mendengar suara rendah pria itu. “Aku yakin kau tahu ibumu sungguh tidak bermaksud menyakitimu.”
Tatsuya menatap wajah pria yang ternyata adalah ayah kandungnya. Ia sama sekali tidak menduga akan mendapat reaksi seperti ini dari Jean-Daniel Lemercier. Tadinya ia mengira pria itu akan membantah, menolak semua penjelasan, tidak bersedia mengakui apa pun, dan menuntut bukti. Kalaupun pria itu menolak percaya, Tatsuya tidak peduli. Ia tidak berusaha mendapat pengakuan. Ia hanya ingin bertemu dengan ayah kandungnya, seperti yang diinginkan ibunya. Tapi pria di hadapannya sekarang ini begitu berbeda. Ia merasa lega.
“Apakah Anda sendiri marah pada Ibu karena tidak mengatakan apa pun tentang kehamilannya?” Tatsuya mendengar dirinya sendiri bertanya.
Jean-Daniel Lemercier berpikir sejenak. “Marah bukan kata yang tepat,” sahutnya pelan. “Aku hanya heran. Tapi mungkin karena kami putus hubungan dan aku pergi dari Jepang, dia berpikir aku tidak akan peduli padanya lagi.”
“Anda sudah berkeluarga, Monsieur?” tanya Tatsuya lagi. Tiba-tiba saja ia ingin lebih mengenal ayah kandungnya.
Jean-Daniel Lemercier tersenyum lemah. “Aku pernah menikah. Itu terjadi beberapa tahun setelah aku meninggalkan Jepang dan kembali ke Paris,” sahutnya. “Aku punya seorang anak perempuan. Namanya Victoria. Mungkin lain kali akan kukenalkan kau kepadanya.”
Tatsuya memaksakan seulas senyum. Ia tidak yakin sudah siap berkenalan dengan anggota keluarga Lemercier yang lain. “Tidak perlu terburu-buru, Monsieur. Kita baru saja berkenalan hari ini.”
Ayah kandungnya mengangguk kecil. “Kau benar,” katanya. “Pelan-pelan saja. Kita punya banyak waktu. Aku berharap kita bisa saling mengenal sedikit demi sedikit.”
Tatsuya menunduk dan menarik napas pelan. Awal yang baik, pikirnya. Tidak seperti yang ditakutkannya selama ini. Jean-Daniel Lemercier memang sangat terkejut dan kebingungan, tapi pria itu bisa mengatasinya dengan baik. Syukurlah...
“Tatsuya?”
Tatsuya mengangkat kepalanya dan melihat Jean-Daniel Lemercier sedang memandangnya dengan mata yang bersinar ramah.
“Aku senang kau datang mencariku,” katanya sungguh-sungguh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar