Delapan
TATSUYA menatap kertas di tangannya, lalu beralih
menatap pemandangan Sungai Seine di luar jendela. Ia mengembuskan napas panjang
dan kembali menatap nomor telepon yang tertera di kertas yang dipegangnya itu.
Akhirnya ia mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menghubungi nomor
tersebut.
Jantungnya berdebar keras dan sebelah tangannya yang
tidak memegang ponsel dibenamkan ke saku celananya sementara menunggu hubungan
tersambung. Kemudian...
“Allô?”
Tatsuya mendengar suara orang itu di ujung sana.
Suara seorang pria yang bernada rendah dan dalam. Sesaat ia tidak bisa
bersuara. Gugup. Ia sadar ia tidak bisa mundur lagi. Sekarang atau tidak sama
sekali.
“Allô?” Suara orang itu terdengar lagi.
Kali ini Tatsuya mengumpulkan segenap tenaga dan
keberaniannya dan menjawab, “Bon soir. Benarkah ini Monsieur Jean-Daniel
Lemercier?” Nama itu diucapkannya dengan berat sekali.
Sesaat tidak terdengar jawaban, lalu, “Benar, saya
sendiri,” sahut pria di ujung sana.
“Selamat malam, Monsieur,” Tatsuya mengulangi. “Saya
minta maaf karena mengganggu Anda malam-malam begini, tapi saya berharap bisa
bertemu dan berbicara dengan Anda.”
Lawan bicaranya bertanya dengan nada curiga, “Kalau
boleh tahu mengenai apa? Dan dengan siapa saya bicara?”
Tatsuya menarik napas. “Ini tentang Sanae Fujisawa,”
sahutnya pelan dan jelas.
“Sanae Fujisawa?” pria itu mengulangi, seakan nama
itu tidak membangkitkan ingatan apa-apa.
“Mungkin Anda lebih mengenalnya dengan nama Sanae
Nakata,” Tatsuya menambahkan dengan cepat. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah
Jean-Daniel Lemercier masih ingat? Ingatkah ia pada gadis yang ditemuinya di
Jepang hampir tiga puluh tahun yang lalu? Apakah ia masih ingat apa yang
terjadi saat itu?
“Nakata?” Nada suara yang terdengar di ujung sana
berubah. “Maksudmu, Sanae Nakata?”
Tatsuya tidak menjawab. Ia menunduk dan memejamkan
mata. Pria itu masih ingat. Ternyata masih ingat....
“Tunggu sebentar. Tolong katakan padaku apa
hubunganmu dengan Sanae? Siapa ini?”
Tatsuya menarik napas dengan susah payah.
“Nama saya Tatsuya Fujisawa. Sanae Nakata adalah ibu
saya,” sahut Tatsuya akhirnya. “Dan saya berharap bisa bertemu dengan Anda,
Monsieur. Ada yang ingin saya bicarakan.... Besok siang? Baiklah, saya pasti
datang.”
*
* *
Sebastien meneguk air putih yang disuguhkan sambil
melirik jam tangannya. Tara sudah terlambat 23 menit, tapi Sebastien tidak
heran. Ia tidak berharap gadis itu bisa muncul tepat waktu, karena itu sama
artinya dengan berharap salju turun di bulan Juli.
Hari ini Sebastien mengajak Tara makan siang untuk
menebus acara makan siang mereka yang batal beberapa hari yang lalu. Sebastien
sudah bersiap-siap menghadapi Tara Dupont yang marah-marah atau Tara Dupont
yang merajuk, tapi tadi ketika ia menelepon Tara, gadis itu kedengarannya
riang-riang saja. Memang agak aneh, tapi Sebastien berpikir mungkin gadis itu
menunggu sampai mereka bertemu muka dan setelah itu Tara akan memuntahkan
kekesalannya karena ditinggalkan begitu saja di restoran waktu itu.
Baiklah, Sebastien mengaku ia memang salah, tapi
Sebastien yakin bisa menenangkan Tara. Ia sudah lama mengenal gadis itu dan ia
tahu bagaimana harus menghadapinya.
Pintu bistro kecil itu terbuka dan Sebastien
mengangkat wajah. Tara masuk dan memandang berkeliling ruangan. Sebastien
mengangkat sebelah tangan untuk menarik perhatiannya. Gadis itu melihatnya dan
langsung tersenyum. Oh, kelihatannya Tara tidak marah.
“Bonjour,” sapa Tara sambil menempelkan pipinya di
pipi Sebastien. “Maaf, aku agak terlambat.”
“Aku sudah terbiasa menunggu,” gurau Sebastien.
Aneh... Gadis ini sungguh terlihat biasa-biasa saja.
Tidak kesal. Tidak marah.
“Kau tidak mengajak Tatsuya?” tanya Tara setelah ia
duduk dan melepas jaketnya.
Sebastien menggeleng. “Tidak,” sahutnya, masih
berusaha menebak-nebak jalan pikiran Tara. Apakah gadis itu benar-benar tidak
kesal dengan kejadian hari itu? “Tadi aku sudah mengajaknya, tapi katanya dia
punya janji makan siang dengan seseorang, jadi dia tidak bisa ikut.”
“Oh?” gumam Tara, lalu membuka menu yang ada di
meja. “Kau sudah pesan?”
Pelayan datang menanyakan pesanan. Setelah
masing-masing menyebutkan apa yang mereka inginkan, si pelayan mengangguk dan
meninggalkan meja mereka. Sebastien baru akan membuak mulut untuk bertanya ketika
ponsel Tara berdering.
“Allô?”
Sebastien melihat senyum Tara mengembang.
“Oh, hai! Kau sedang di mana?” tanya gadis itu. “Di
jalan?... Aku? Aku sedang makan siang bersama Sebastien.” Tara mengangkat
wajahnya menatap Sebastien.
Siapa? Sebastien bertanya pada Tara tanpa suara.
Pasit orang yang kenal dengannya juga, karena Tara menyebut-nyebut namanya.
Tara memberi isyarat dengan tangannya supaya Sebastien menunggu sebentar.
“Tidak apa-apa. Aku sudah tahu dari Sebastien... Ya,
katanya kau punya janji makan siang dengan seseorang,” lanjut gadis itu di
telepon. “Dengan siapa?... Oh, baiklah. Nanti saja baru kauceritakan padaku.”
Alis Sebastien terangkat. Lho...?
Tara diam sejenak sambil mengangguk-angguk, lalu
berkata, “Sibuk sampai malam?... Mm, aku masih harus siaran nanti... Oke.
Sampai nanti.”
Sebastien menunggu sampai Tara mematikan ponsel,
lalu bertanya, “Siapa yang menelepon tadi?”
“Tatsuya,” jawab gadis itu polos.
“Tatsuya?” ulang Sebastien. Ia nyaris tidak percaya
pada pendengarannya. Apa maksudnya ini? Ia semakin bingung. “Bagaimana Tatsuya
bisa meneleponmu? Maksudku, bukankah kalian baru bertemu sekali?”
Tara mengerjapkan matanya, lalu seakan baru
menyadari sesuatu, ia bergumam, “Aaah... Benar juga. Aku lupa memberitahumu.”
“Apa?”
Tara tersenyum lebar. “Sebenarnya kami sudah sering
bertemu. Kau benar, Sebastien. Dia memang oran gyang baik dan sangat
menyenangkan.”
Sebastien mengangkat tangannya, meminta Tara
bercerita lebih pelan. “Aku sudah ketinggalan banyak. Coba ceritakan dari
awal.”
Tara pun menceritakan semuanya. Setelah selesai ia
mengerutkan kening. “Tapi ngomong-ngomong, Tatsuya belum memberitahumu soal
ini?”
Sebastien menggeleng. “Di kantor sibuk sekali, jadi
kami jarang sekali bertemu,” sahutnya. “Kalaupun bertemu, kami hanya sempat
membicarakan masalah pekerjaan. Tidak ada waktu banyak untuk mengobrol. Setiap
hari di kantor dia bekerja seperti mesin.”
Tara mengerjapkan mata. “Oh?”
Pelayan datang lagi dan membawakan pesanan mereka.
Mereka berdua terdiam sejenak, lalu Sebastien membuka mulut. “Ngomong-ngomong,
kau tidak marah padaku?”
Tara mengangkat wajah dan menatap Sebastien dengan
pandangan bertanya.
“Hari itu acara makan siang kita batal.”
“Oh... itu,” gumam Tara. Ia mendesis pelan dan
mengangguk-angguk. “Sewaktu kau meninggalkanku demi si orang-orangan saw...
maksudku, pacarmu itu?”
“Dia bukan pacarku,” Sebastien membela diri.
“Setidaknya, belum bisa dibilang pacar.”
“Terserahlah.”
“Lalu, kau tidak marah?” tanya Sebastien lagi.
Tara meletakkan garpunya dan menatap Sebastien
dengan tatapan tidak sabar. “Tentu saja aku marah,” katanya jengkel. “Siapa
yang tidak marah kalau ditinggalkan begitu saja padahal kau yang lebih dulu
mengajakku makan siang.” Lalu sikapnya melunak. “Tapi setelah itu Tatsuya
mengajakku makan malam. Kau tahu makanan selalu membuatku terhibur. Dia memasak
udon dan mengundangku makan di tempatnya. Ternyata dia pintar sekali memasak.
Sayang sekali waktu itu kau tidak bisa ikut. Makan malamnya sangat
menyenangkan.”
Sebastien membetulkan letak kacamatanya dengan
kening berkerut. Sebenarnya apa yang sedang terjadi antara dua orang itu?
Walaupun Tara tidak mengatakan apa-apa, kenapa Sebastien merasa sepertinya
gadis itu menyukai Tatsuya?
*
* *
Akhirnya Tatsuya berhadapan dengannya.
Jean-Daniel Lemercier yang saat ini duduk di hadapannya
adalah seorang pria berusia sekitar lima puluhan yang tampan, tinggi, dan
berambut cokelat. Matanya bersinar cerdas. Penampilannya rapi dan terawat.
“Jadi Sanae sudah meninggal dunia?” gumam pria yang
lebih tua itu sambil menyesap kopinya dengan perlahan. Suara dan sinar matanya
mengandung penyesalan.
Tatsuya mengangguk tanpa menyahut.
Mereka berdua berada di restoran mewah di sebuah
hotel berbintang. Mereka sepakat bertemu di sana pada jam makan siang. Ketika
Tatsuya tiba di sana, Jean-Daniel Lemercier sudah datang lebih dulu dan
menunggunya. Pria itu langsung bertanya mengenai ibunya dan Tatsuya mengatakan
ibunya sudah meninggal dunia.
“Tepatnya kapan?” tanya Jean-Daniel Lemercier tanpa
menatap Tatsuya. Kelihatannya pria itu agak terguncang dengan kabar itu.
Tatsuya menyahut datar, “Setahun yang lalu.”
Pria yang duduk di hadapannya itu mengangguk muram,
dan bertanya lagi, “Dia tidak menderita, bukan?”
Tatsuya terdiam beberapa detik. “Tidak.”
Selama beberapa saat tidak ada yang berbicara, lalu
Jean-Daniel Lemercier memecah keheningan. “Aku turut menyesal,” katanya tulus.
“Apakah ada yang bisa kulakukan untuk membantu?”
Tatsuya mengeluarkan sepucuk surat dari saku dalam
jasnya dan meletakkannya di meja, di depan pria itu. Ia segera menarik kembali
tangannya ketika menyadari tangannya sedikit gemetar.
Jean-Daniel Lemercier menatap surat yang disodorkan,
lalu beralih menatap Tatsuya. “Apa ini?” tanyanya bingung.
“Ini surat yang ditulis ibuku sebelum Beliau
meninggal dunia,” jawab Tatsuya. Ia mengangkat wajah dan memandang Jean-Daniel
Lemercier yang sudah memegang surat itu.
“Tapi surat ini ditujukan untukmu,” kata pria itu
begitu melihat nama yang tertulis di amplop.
Tatsuya mengangguk. “Memang benar. Tapi saya ingin
Anda membacanya, Monsieur. Ibu juga ingin Anda membacanya, karena Beliau menulisnya
dalam bahasa Prancis.”
Jean-Daniel Lemercier menurut dan mulai membaca.
Kemudian raut wajahnya berubah dan keningnya berkerut. Ia menatap Tatsuya
dengan pandangan bertanya.
Tatsuya merasa ada yang menyumbat tenggorokannya. Ia
semakin gugup. Telapak tangannya terasa lembap. Inilah yang selalu
dikhawatirkannya. Saat ini. Ketika rahasia mulai terbongkar. Ia bahkan sudah
mempersiapkan diri dengan berbagai reaksi yang akan diterimanya.
“Ibu tidak pernah berkata apa pun ketika masih
hidup. Seperti yang Anda baca di surat itu, Ibu berharap saya bisa bertemu
dengan Anda,” kata-katanya semakin berat, “karena ternyata Anda adalah ayah
kandung saya.”
Jean-Daniel Lemercier menyandarkan punggungnya ke
sandaran kursi dan tetap menatap surat di tangannya. Wajahnya pucat.
Selama beberapa saat, tidak ada yang bersuara, sibuk
dengan pikiran masing-masing. Tatsuya bisa mendengar debar jantungnya sendiri.
Ia bertanya-tanya apa yang dipikirkan pria yang duduk di hadapannya itu. Pria
itu menatap lekat-lekat surat yang dipegangnya. Sebelah tangannya bertopang
pada lengan kursi dan mengusap-usap pelipisnya.
Tatsuya bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana
perasaan Jean-Daniel Lemercier? Apakah ia marah? Sedih? Bingung? Kaget?
Tatsuya menarik napas. “Dalam suratnya Ibu berkata
kalau kalian sempat menjalin hubungan. Saya tidak tahu kenapa Anda meninggalkan
Ibu ketika Ibu sedang hamil....”
“Aku tidak tahu... ibumu hamil,” sela Jean-Daniel
Lemercier. Ia menatap Tatsuya lurus-lurus. Sinar matanya hangat dan
bersungguh-sungguh.
Tatsuya menatap mata itu dan tidak menemukan
kemarahan di sana. Tidak ada. Ia mendapati dirinya memercayai pria itu.
Pria yang lebih tua itu melanjutkan, “Aku sama
sekali tidak tahu. Kalau aku tahu... aku...”
Tatsuya memaksakan seulas senyum. “Saya tidak
menyalahkan Anda, Monsieur. Bagaimanapun juga Ibu akhirnya menikah dengan
Kenichi Fujisawa, ayah saya. Ayah saya orang yang sangat baik. Tidak pintar,
tidak kaya, tapi sangat baik. Ayah menerima Ibu apa adanya dan selalu menganggap
saya anak kandungnya sendiri. Tidak ada yang harus disesalkan.”
Jean-Daniel Lemercier masih shock. Ia tidak bisa
berkata apa-apa.
Tatsuya melanjutkan. “Saya harap Anda tidak salah
paham dengan tujuan saya menemui Anda. Saya tidak kekurangan apa pun, jadi saya
tidak ingin meminta apa pun dari Anda. Saya hanya sekadar menuruti permintaan
almarhumah ibu saya. Ibu saya ingin agar saya dan ayah kandung saya saling
mengenal. Dan sekarang kita... sudah berkenalan, Monsieur.”
Pria yang lebih tua itu menarik napas berat, lalu
bertanya, “Apakah kau marah pada ibumu karena tidak memberitahumu lebih awal?”
Tatsuya menunduk. Ia tidak mengira pria itu akan
menanyakan hal itu, karena itu ia tidak bisa menjawab. Sebenarnya ya, ia sempat
merasa marah. Marah karena dibohongi begitu lama, tapi sekarang...
“Aku harap kau tidak marah kepada ibumu.” Tatsuya
mendengar suara rendah pria itu. “Aku yakin kau tahu ibumu sungguh tidak
bermaksud menyakitimu.”
Tatsuya menatap wajah pria yang ternyata adalah ayah
kandungnya. Ia sama sekali tidak menduga akan mendapat reaksi seperti ini dari
Jean-Daniel Lemercier. Tadinya ia mengira pria itu akan membantah, menolak
semua penjelasan, tidak bersedia mengakui apa pun, dan menuntut bukti. Kalaupun
pria itu menolak percaya, Tatsuya tidak peduli. Ia tidak berusaha mendapat
pengakuan. Ia hanya ingin bertemu dengan ayah kandungnya, seperti yang
diinginkan ibunya. Tapi pria di hadapannya sekarang ini begitu berbeda. Ia merasa
lega.
“Apakah Anda sendiri marah pada Ibu karena tidak
mengatakan apa pun tentang kehamilannya?” Tatsuya mendengar dirinya sendiri
bertanya.
Jean-Daniel Lemercier berpikir sejenak. “Marah bukan
kata yang tepat,” sahutnya pelan. “Aku hanya heran. Tapi mungkin karena kami
putus hubungan dan aku pergi dari Jepang, dia berpikir aku tidak akan peduli
padanya lagi.”
“Anda sudah berkeluarga, Monsieur?” tanya Tatsuya
lagi. Tiba-tiba saja ia ingin lebih mengenal ayah kandungnya.
Jean-Daniel Lemercier tersenyum lemah. “Aku pernah
menikah. Itu terjadi beberapa tahun setelah aku meninggalkan Jepang dan kembali
ke Paris,” sahutnya. “Aku punya seorang anak perempuan. Namanya Victoria.
Mungkin lain kali akan kukenalkan kau kepadanya.”
Tatsuya memaksakan seulas senyum. Ia tidak yakin
sudah siap berkenalan dengan anggota keluarga Lemercier yang lain. “Tidak perlu
terburu-buru, Monsieur. Kita baru saja berkenalan hari ini.”
Ayah kandungnya mengangguk kecil. “Kau benar,”
katanya. “Pelan-pelan saja. Kita punya banyak waktu. Aku berharap kita bisa
saling mengenal sedikit demi sedikit.”
Tatsuya menunduk dan menarik napas pelan. Awal yang
baik, pikirnya. Tidak seperti yang ditakutkannya selama ini. Jean-Daniel
Lemercier memang sangat terkejut dan kebingungan, tapi pria itu bisa mengatasinya
dengan baik. Syukurlah...
“Tatsuya?”
Tatsuya mengangkat kepalanya dan melihat Jean-Daniel
Lemercier sedang memandangnya dengan mata yang bersinar ramah.
“Aku senang kau datang mencariku,” katanya
sungguh-sungguh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar